Monday, 24 September 2018

Perempuan Legislatif Harus Berjuang Keras

Senin, 17 Februari 2014 — 16:45 WIB
Melani Leimena-s

JAKARTA (Pos Kota) – Sekarang ini, upaya meningkatkan jumlah perempuan agar bisa duduk di DPR terus dilakukan. Aturan UU Pemilu sudah mengharuskan setiap parpol harus punya calon legislatif 30 persen.

Maka, kaum perempuan dan caleg perempuan sendiri yang memang harus kerja keras menggapainya.

“Jadi, UU telah memberikan peluang kepada kaum perempuan untuk berkiprah lebih besar dalam politik di parlemen. Karena itu, saya berharap pemilih perempuan tidak Golput, sebab yang akan merugi nantinya perempuan sendiri,” kata Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli dalam dialog ‘Menyasar Pemilih Perempuan Dalam Pemilu 2014’ di MPR,  Senin (17/2).

Menurut dia, jumlah pamilih perempuan termasuk pemilih pemula yang mencapai 49 % pada pemilu 2014.

Pertanyaannya adalah siapa caleg yang akan dipilih oleh perempuan? Kalau tidak ada yang memilih, maka politisi perempuan di DPR RI akan kurang dari 30 persen.

“Keberadaan anggota DPR dari kalangan perempuan sangat penting, yakni  agar DPR RI pro gender perempuan, berpihak kepada kaum perempuan dalam membahas berbagai kebijakan dan perundang-undangan,” ujarnya.

Namun, Melani yakin kalau pemilih perempuan itu tak akan pindah ke caleg lain selain perempuan, jika mereka sudah yakin dengan pilihannya sendiri.

“Perempuan itu sulit ke lain hati. Tidak seperti lelaki, yang terus berubah-ubah karena berbagai hal terkait materi dan sebagainya. Jadi, kaum perempuan sendiri harus berusaha memenuhi ketentuan UU tersebut,” ungkap politisi Partai Demokrat ini.

Melani sendiri mengaku telah melakukan kampanye dengan cerdas dan efisien, tanpa harus tergantung pada kekuatan uang. Ia pun mengaku, saat ini strategi kampanye berbeda seiring dengan turunnya citra Partai Demokrat.

“Sekarang saya tidak mengenalkan langsung sebagai kader Demokrat, tapi mendekati khalayak dulu. Kalau dulu kan, sebut Demokrat gitu saja pasti jadi, sekarang kita harus hati-hati,” ujarnya.

Pengajar politik dari UI, Ani Sucipto menegaskan,  pertarungan politik perempuan di 2014 semakin berat, dan apalagi tidak semua partai bisa lolos parliamentary threshold (PT) 3,5 persen.

Karena itu, bagi perempuan yang maju lagi sebagai caleg, maka yang dilihat masyarakat adalah apa saja yang dilakukan selama 5 tahun menjadi anggota DPR RI? Sudah sesuai dengan yang dijanjikan sebelum masuk parlemen?

“Kalau selama 5 tahun tak berbuat apa-apa tentu sulit akan terpilih lagi. Apalagi bagi caleg Demokrat dan PKS yang mengalami citra buruk akibat kasus korupsi yang dihadapinya,” ujarnya.

Caleg perempuan sendiri, kelak kalau terpilih masuki Parlemen DPR, diharapkan bisa menjadi petarung gagasan dan ide-ide yang berpihak kepada kepentingan perempuan.

“Tapi, ini rasanya masih berat, karena yang ada sekarang ini belum punya jaringan dan basis massa kuat,” ujarnya. (winoto/d)