Friday, 20 September 2019

Tak Bisa Jaga Amanat, Teman Sendiri Dibabat

Senin, 17 Februari 2014 — 8:05 WIB
NID-17Feb

SADIS  juga kelakuan Fikri, 20, dari Sidoarjo (Jatim) ini. Teman sendiri, Wawan, 19, dibabat golok gara-gara diminta mengantar pulang calon istrinya, tapi malah diajak muter-muter selama 3 hari. Wawan kini dalam kondisi kritis di rumahsakit Surabaya, sementara Fikri masih dalam pengejaran polisi.

Titipan adalah sebuah amanat yang harus dijaga, baik itu berupa uang, maupun barang. Jika tak mampu menjaganya, akan hilanglah kepercayaan orang. Bank misalnya, dia bekerja atas dasar kepercayaan orang menitipkan uang padanya. Jika sampai ada bank yang menggangsir rekening nasabahnya, itu berarti telah menyia-nyiakan kepercayaan orang. Namanya bukan lagi bank, tapi bang…..sat!

Bagaimana jika titipan itu berupa barang yang bisa bergerak-gerak? Ya lihat-lihat dulu barangnya. Seperti Wawan dari Sidoarjo ini contohnya, ketika dapat titipan barang bisa bergerak yang berwujud gadis cantik, imannya langsung goyah. Mestinya gadis cantik Tuti, 19, diantar langsung ke rumahnya, tapi malah diajak muter-muter selama berhari-hari. Bagaimana nggak bikin bingung orang.

Fikri dan Wawan yang sama-sama tinggal di Sidoarjo, memang bersahabat akrab. Saking akrabnya, ketika Fikri mulai sibuk pacaran, Wawan sering diajak pula sebagai konsultan. Maksudnya, bagaimana tehnik dan jurus mendekati perempuan, Fikri banyak berguru pada sahabatnya itu. Secara umur memang lebih tua Fikri, tapi soal pengalaman mendekati wanita, Wawan memang lebih banyak pengalaman.

Pacar Fikri bernama Tutik. Sering kali dia apel ke rumah Tuti di  Manukan Adi Surabaya dengan mengajak Wawan. Di sini  posisi Wawan memang seperti wasit, dia selalu mengawasi Fikri sebagai pemain. Bagaimana dia menggiring bola pada lawannya, Tutik. “Awas, kalau bola sampai masuk, tak semprit kamu.” Kata Wawan wanti-wanti. Entah apa yang dimaksudkan “bola” oleh Wawan ini.

Sekitar seminggu lalu Fikri mengajak Tutik ke rumahnya di Sidoarjo. Tapi anehnya, ketika gadis itu mau pulang, bukannya dia yang mengantar, tapi malah minta tolong pada sahabatnya, Wawan. Di mana tanggungjawabnya sebagai cowok idaman? Nggak tahulah, yang jelas Wawan menurut saja atas titah sahabatnya itu. Bahkan nampaknya dia dengan suka cita dan gegap gempita menerima amanat tersebut.

Mengapa musti dengan sukacita? Ya karena dia sebetulnya ada hati juga pada si Tutik. Lantaran kalah duluan, ya dia harus mengalah pada sahabat. Tapi sebagai pemain watak, rasa sukanya pada gadis itu tak pernah terbaca oleh Fikri. Karenanya, dia enteng dan percaya saja memberikan amanat pada Wawan untuk mengantar sidoi ke rumahnya.

Bag Wawan, kepercayaan Fikri padanya kan sama saja seperti orang ngantuk disorong bantal, orang kehausan diberi Aqua dingin. Karenanya Tutik tak segera diantar pulang, tetapi diajak muter-muter. Lagi-lagi lantaran dia ahli mendekati cewek, Tutik menurut saja. Padahal muter-muternya bukan hanya satu jam dua jam, tapi sampai berhari-hari alias menginap di tempat tertentu.

Sudah barang tentu Tutik jadi golekan (dicari-cari) keluarganya. Kali pertama keluarga menanyakan pada Fikri, tapi Fikri malah jadi Raden Mas Jaya Endha (berkelit) dengan mengoper masalah pada Wawan. Rumah Wawan pun disambangi, ternyata dia tidak pulang ke rumah. Kemana mereka, kok bisa hilang seketika bak ditelan bumi.

Tiga hari kemudian barulah unclug-unclug Wawan tampak ke rumah Tutik sambil mengantar kekasih Fikri tersebut. Legalah keluarga melihat putrinya pulang dengan selamat. Tapi beda lagi dengan Fikri. Anak muda yang temperamental macam Prabu Baladewa itu serta merta ambil golok di rumah calon mertua, dan tanpa ba bi bu lagi dibacokkan ke tubuh Wawan. “Kenapa kekasihku kamu bawa lari, kamu apakan saja, bedebah!”, ujarnya sambil membabatkan golok itu berkali-kali.

Kontan Wawan ambruk mandi darah. Keluarga Tutik segera malarikannnya ke RS Tandes, sedangkan Fikri sehabis membacok sahabatnya tersebut langsung tinggal glanggang colong playu (kabur). Polisi Surabaya kini tengah memburu keberadaan Prabu Baladewa, eh Fikri yang emosian kayak Prabu Baladewa.

Jangan-jangan Tutik ulang utuh hanya luarnya doang. (Gunarso TS)

  • Idhu Geni

    rasanya sih si Tutik ini perlu juga dibabat golok Fik…….

  • Jon Hermanto

    acah gile, benarrrrrrrrrrrrr