Tuesday, 20 November 2018

Catatan 100 Tahun Letusan Gunung Kelud

Selasa, 18 Februari 2014 — 18:09 WIB
A rescue member takes pictures from Panataran village in Blitar of Mount Kelud's eruption in Indonesia's East Java province

SELAMA 100 tahun terakhir letusan Gunung Kelud cenderung berupa letusan besar dan berlangsung sebentar, kecuali letusan pada 2007, demikian pendapat seorang ahli gunung berapi,  Surono.

Kelud-Hilmi-328

Kelud dalam foto karya warga

“Biasanya letusan Kelud paling lama dua hari, tetapi material yang dilontarkan lebih dari 100 juta meter kubik,” kata ahli gunung berapi Surono yang juga akrab dipanggil Mbah Rono.

A housing complex is seen covered with ash from Mount Kelud, in Yogyakarta

Abu letusan gunung Kelud menutupi wilayah Yogyakarta – Reuters.

Surono, yang juga Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ini, letusan Gunung Kelud pada Kamis (13/2) malam, yang telah melemparkan materialnya hingga ketinggian 17 Km, merupakan ciri khas letusan Kelud selama 100 tahun terakhir.

“Artinya, letusan Kelud kembali eksplosif seperti ciri khas dia selama 100 tahun, kecuali tahun 2007,” kata Surono.

Ledakan pada 2007, menurutnya, tidak bersifat eksplosif dan cuma membentuk kubah lava di dalam danau kawahnya.

Dia mengatakan, kubah lava itulah yang kemudian dimuntahkan pada ledakan pada Kamis malam.

Surono menamatkan studi doktornya dalam bidang geofisika di Universitas Savoei, Chambery, Perancis. Dia juga memeroleh gelar master di Universitas Grenoble, Perancis dan gelar sarjana dari Departemen Fisika di Institut Teknologi Bandung.

Berikut sejarah ledakan gunung Kelud semenjak awal 1901 hingga 2007 lalu, seperti disarikan dari wawancara dengan Surono dengan BBC:

LETUSAN 1901

Letusan terjadi tengah malam, 22-23 Mei 1901, selama sekitar dua jam dan meningkat pada pukul tiga pagi. Awan panas menyerang wilayah Kediri. Bunyi letusan terdengar sampai Pekalongan, sementara hujan abu menyampai Sukabumi dan Bogor. Korban jiwa dilaporkan cukup banyak, tetapi angka pasti tidak tercatat.

LETUSAN 1919

Sedikitnya 5160 orang menjadi korban jiwa akibat letusan gunung Kelud pada tengah malam, 20 Mei 1919 yang disebut terbesar dalam abad 20. Letusan ini snagat keras sehingga dentumannya terdengar sampai Kalimantan. Hujan batu cukup lebat dan sebgaian atap rumah hancur, dan hujan abu mencapai Bali. Kota Blitar dilaporkan mengalami kehancuran akibat letusan ini.

LEDAKAN 1951

Letusan terjadi pada pukul 06.15 pagi pada 31 Agustus 1951 yang menyebabkan tujuh orang tewas dan meulai 157 orang. Setidaknya terdengar empat dentuman keras akibat letusan ini. Hujan batu yang sebagian sebesar buah mangga menerpa sebagian wilayah Margomulyo. Hujan abu terjadi selama sekitar satu jam dan mencapai kota Bandung, Jabar.

LEDAKAN 1966

Terjadi pada 26 April 1966 pukul 20.15 WIB, letusan ini diwarnai luapan lahar di sejumlah sungai di sekitarnya. Sedikitnya 210 orang tewas akibat letusan ini.

LEDAKAN 1990

Letusan terjadi secara beruntun pada 10 Februari 1990. Letusan yang terjadi belakangan lebih besar. Letusan utama disertai awan panas sejauh 5km dari kawah. Daerah yang rusak tidak terlalu luas, namun sebaran abu jauh lebih luas dan diperkirakan mencapai luasan 1700km persegi. Sekitar 500 rumah rusak akibat tertimpa hujan abu. Korban jiwa sekitar 32 orang.

LEDAKAN 2007

Kali ini letusan gunung Kelud tidak eksplosif seperti sebelumnya, melainkan kemunculan kubah lava yang besar di kawah Kelud. Kubah itu terus tumbuh sejak 5 November 2007 hingga berukuran selebar 100meter.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus “tumbuh” hingga berukuran selebar 100 m. – dms