Sunday, 18 November 2018

Menggugat Keseriusan Memerangi Narkoba

Selasa, 18 Februari 2014 — 12:03 WIB

DALAM sepekan ini narkoba dalam jumlah besar disita oleh polisi dan BNN dari tangan bandar dan pengedar. Ekstasi senilai Rp1,6 miliar disita oleh Polres Jakarta Pusat, shabu 5 kilogram senilai Rp10 miliar disita oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dari mafia Malaysia-Aceh, dan banyak lagi penangkapan lainnya.

Ini menunjukkan betapa kuatnya tangan-tangan mafia narkoba mencengkeram Indonesia. Kita tahu jaringan narkoba telah menggurita ke semua elemen masyarakat, termasuk oknum aparat keamanan. Tak sedikit anggota Polri, TNI, jaksa, hakim bahkan pejabat negara sekelas Akil Mochtar ikut terjerumus. Yang membuat miris, ada yang menjadi bagian dari jaringan.

Penangkapan artis Roger Danuarta, tidaklah mengejutkan. Sederet artis terkenal juga banyak yang terjerembab menjadi pemuja barang laknat. Mereka adalah bagian dari sekitar 4,9 juta penduduk Indonesia yang menjadi budak narkoba. Bagi kartel narkoba, Indonesia memang pasar potensial dengan omzet tak kurang dari Rp42 triliun/tahun.

Gencarnya genderang perang yang ditabuh aparat untuk melawan narkoba seolah tak bergaung. Produksi narkoba di dalam negeri tetap berlangsung, barang haram dari luar terus mengalir. Bahkan muncul beragam narkoba jenis baru. Upaya pencegahan, penangkapan dan penindakan terhadap pelaku kalah cepat. Mata rantai mafia internasional belum bisa diputus.

Kejahatan narkoba termasuk satu dari sekian jenis kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Seluruh dunia memeranginya. PBB juga memiliki divisi khusus untuk menangani masalah ini yaitu United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC).

Itu sebabnya pemerintah Indonesia menggelontorkan dana yang tidak sedikit kepada lembaga penggiat anti narkoba. BNN pada tahun 2013 mendapat kucuran dana Rp1 triliun. Tahun ini anggaran berkurang menjadi Rp780 miliar, tapi masih termasuk tinggi.

Pertanyaan yang muncul di benak kita, seriuskah pemerintah memerangi narkoba ? Pembebasan bersyarat terhadap si ‘ratu maiyuana’ Schapelle Leigh Corby bisa disebut potret tidak seriusnya pemerintah. Sikap kompromi ini bukan cuma membuat rakyat kecewa dan apatis, tapi juga melemahkan hukum di Indonesia di mata mafia internasonal.

Untuk apa dana besar dikucurkan kalau ternyata upaya pemberantasan dilakukan setengah hati. Padahal kerugian yang ditimbulkan amat luar biasa. Jutaan penduduk mulai usia 10-60 tahun telah menjadi korban dengan jumlah terbanyak di usia produktif 20-40 tahun.

Saatnya kita menagih keseriusan pemerintah. Kita tidak ingin melihat anak muda tergeletak dengan jarum suntik di tangan, atau menemui ajal akibat over dosis. Janji pemerintah membebaskan Indonesia dari narkoba pada 2015 harus diwujudkan.**