Sunday, 23 September 2018

Presiden Korea Ingatkan Jepang, Soal Budak Seks di Masa Perang

Minggu, 2 Maret 2014 — 21:12 WIB
KOREA-ELECTION/

SEOUL – Presiden Korea Selatan Park Geun-hye memperingatkan Jepang akan terisolasi bila tidak mengkaji kembali pernyataan yang mengakui adanya budak seks selama masa perang.

Park mengatakan hal itu dalam pidato memperingati perjuangan Korea melawan Jepang.

Park menyerukan Jepang untuk menerapkan “kebenaran dan rekonsiliasi.”

Jepang meminta maaf pada 1993 kepada ribuan wanita yang dipaksa menjadi penghibur tentara pada masa perang.

Hari Jumat (28/02), BBC melaporkan, Tokyo akan mendirikan panel untuk mengkaji landasan permintaan maaf itu.

Sekitar 200.000 wanita di kawasan yang diduduki Jepang selama Perang Dunia II diperkriakan dipaksa menjadi budak seks untuk tentara.

Banyak di antara mereka berasal dari Cina, Korea, Indonesia, Filipina dan Taiwan.
Kebenaran sejarah

Sejumlah anggota kelompok konservatif di Jepang mengklaim wanita yang secara eufemisme disebut “wanita penghibur” adalah pelacur.

Namun para wanita yang menjadi korban menyanggah dan demikian pula negara-negara tetangga Jepang.

Peringatan Presiden Park itu muncul dalam pidato memperingati perjuangan Korea tahun 1919 melawan penjajahan Jepang.

“Kebenaran sejarah berasal dari kesaksian mereka yang selamat,” kata Park.

“Jepang hanya akan mengisolasi diri bila tidak mendengarkan kesaksian mereka dan menutupi fakta itu untuk kepentingan politik.”

Presiden Park mendesak Jepang untuk mencontoh langkah Jerman yang menyatakan penyesalan atas masa lalu sehingga kedua negara “dapat bergerak maju dalam era baru kerjasama, perdamaian, dan kesejahteraan.” – bbc/d