Saturday, 17 November 2018

Mana Mungkin Presiden Terkena Ledakan Monas?

Kamis, 13 Maret 2014 — 8:45 WIB
SS-Goen13-Mn

INI memang sekedar berandai-andai. Bila raja Syailendra di abad ke 7 tewas di Borobudur gara-gara terkena lahar Merapi, di abad modern ini bisa saja seorang presiden RI tewas terkena ledakan gudang amunisi.

Ini bisa saja terjadi manakala Gubernur Jokowi ngotot akan membangun gudang amunisi di bawa Lapangan Monas. Disebut ngotot, karena meski Presiden SBY tidak setuju, dia akan jalan terus dengan proyeknya.

SS-Dms13M-475

Bahwa Gubernur Jokowi banyak idenya, semua orang mengakui. Ketika dia punya gagasan akan membangun terowongan dari Monas tembus Stasiun Gambir dan Balaikota, orang setuju saja. Tapi ketika Jokowi menambahkan bahwa dalam proyek itu juga akan dijadikan fasilitas pertahanan TNI semacam gudang peluru,  orang pun terhenyak. Bukan saja rakyat, Presiden SBY pun serta merta menyatakan tidak setuju.

Entah apa pertimbangan Jokowi, sehingga punya ide nakal semacam itu. Semua orang tahu bahwa yang namanya gudang amunisi, itu harus steril dari kesibukan umum. Karenanya, Gudang Peluru yang dulu ada di Tebet sudah dipindah ke pinggiran kota, sehingga ada yang di Cilandak dan Pulogebang.

Meski ditempatkan penuh kehati-hatian, nyatanya pada 29 Oktober 1984 gudang peluru di Cilandak KKO meledak dan tewaskan sejumlah orang. Dan belum lama ini gudang amunisi TNI-AL di Tanjung Priok juga meledak.

Proyek ”ameng-ameng nyawa” (sangat membahayakan) ini memang harus ditentang. Monas dan sekitarnya adalah wilayah publik yang sangat sibuk. Sebelah utara ada Istana Presiden dan gedung MA, Kementrian Dalam Negeri. Sebelah selatan Istana Wapres dan Balaikota. Sebelah barat sejumlah gedung Kementrian juga ada di sana. Nah, misalkan proyek itu jalan terus dan suatu saat meledak, apa nggak lucu jika Presiden RI sampai tewas hanya terkena ledakan mesiu?

Meski terowongan itu tetap dibuat, yakinlah bunker amunisi takkan disertakan. Bila rakyat menolak, Jokowi dijamin takkan memaksakan. Adapun saran SBY terkesan tak digubris, karena sekarang dia masih Presiden RI. Tapi nanti setelah Oktober 2014, sarannya pasti didengar, karena SBY sudah rakyat biasa. Bukankah Jokowi memang sosok pemimpin yang dikenal pro rakyat? – gunarso ts