Saturday, 22 September 2018

Katanya Sih Nggak Mikir Diam-diam Jokowi Naksir

Sabtu, 15 Maret 2014 — 6:28 WIB
sentil-3

BAGI etika orang Jawa, meski dalam kondisi perut lapar, saat ditawari orang makan pasti akan bilang: matur nuwun, kula nembe mawon (terima kasih, saya baru saja makan). Itulah gambaran Jokowi, mantan Walikota Solo yang sudah didaulat Megawati untuk jadi Capres PDIP. Kemarin-kemarin setiap dikejar pers soal pencapresan, selalu bilang nggak mikir. Tapi belakangan mulai melempar banyak isyarat, dan begitu ada titah dari Ketum PDIP, langsung menyatakan: bismillah dan siap melaksanakan.

Banyak orang mengatakan, Jokowi hanya menang popularitas akibat menjadi media darling. Tapi orang harus ingat, popularitas itu mencul karena hasil kerja. Saat menjadi Walikota Solo, dia punya banyak prestasi dan tak mau mbathi (cari untung). Maka saat pemilihan Walikota Solo priode kedua, dia menang 91 % suara. Lantaran prestasinya di Solo itulah Jokowi kemudian barhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Setahun membenahi Jakarta –meski hasilnya belum nyata benar– banyak kalangan yang ngompori Jokowi untuk menjadi Capres di 2014. Tapi setiap dikejar pers soal kemungkinan itu, sang Gubernur selalu berkelit dengan alasan: nggak mikir, wong ngurusi banjir dan macet Ibukota saja pusing. Namun belakangan, Jokowi mulai melempar bahasa-bahasa isyarat. Katanya dia tetap nggak mikir, tapi matanya mulai jereng melirik Istana.

Kemarin, Jokowi sebagai Capres PDIP telah ditabalkan. “Boarding pass” itu sudah diserahkan Megawati ke padanya. Warga Ibukota banyak yang kecewa, karena tokoh dari Solo ini telah ninggal kokohan (makan tak sampai selesai) di Jakarta. Semoga saja Ahok sebagai penerusnya, mampu melaksanakan. Melihat kinerjanya selama ini, rasa optimisme itu ada. Asalkan, dia tak juga meninggalkan DKI karena tergoda iming-iming menjadi Cawapres.

Rakyat sekarang jadi tahu bahwa Jokowi yang katanya nggak mikir soal Istana, ternyata naksir juga. Meski kecewa, rakyat Jakarta harus rela berkorban demi kepentingan lebih besar. Misalnya Jokowi berhasil menjadi RI-1, begitu besar harapan rakyat tertumpu ke pundaknya, mengurus negara menjadi lebih baik. Kita merdeka sudah hampir 70 tahun, tapi wong cilik tetap begini-begini saja. – gunarso ts

  • untung

    poskota yg harmoko kenapa cuma cari2 kesalahan jokowi ?coba korek2 juga kebusukan capres2/pejabat yg lain,nah korannya rakyat hrs jujur adil dlm membuat berita

  • budiyono

    Meninggalkan Jakarta krn prestasi sehrsnya wong Jakarta Bangga. Bukan mencela krn meara ditinggalkan. Kalo Jokowi ga bagus ga mungkin dijagokan jd presiden. Yg ngomong tanggungjwbnya lum selesai da ditinggalkan krn yg ngomong ga tau prestasi.Liat pemimpin daerah ga ga berprestasi pasti sampe hbs masa jabatannya. walaupun hasilnya nol. Yg menghendaki Jakarta bebas banjir dan macet adalah orang yg gau ttg lingkungan.Sumatra aja banjir yg msh lus hutanya.

  • nsigit

    Anak SD saja harus lulus ujian dulu baru naik kelas, ini rapor masih merah mau naik kelas. Mana bukti janji kampanye dulu..nanti kampanye presiden eeh janji kosong lagi. Kalau jadi pejabat itu cuma menclok sana menclok sini..masa jabatan belum selesai, bisa bubar ni negara. nanti ada lurah belom selesai jadi camat, camat belum beres jadi bupati, jadi bupati belum kelar mau jadi gubernur eee juadi gubernur blum selesai mau jadi presiden..terlalu.