Thursday, 20 September 2018

Mantu Gaya Pejabat Kaya, Mewah Dalam Kemiskinan

Selasa, 18 Maret 2014 — 2:16 WIB
SS-Goen-17M

PEJABAT kaya itu tak dilarang, kalau ada paling-paling: dicurigai. Pejabat kaya mantu di hotel atau gedung mewah juga banyak. Tapi jika souvenirnya saja sampai bernilai Rp 1, 75 miliar untuk 2.500 undangan, mungkin baru hajatannya Nurhadi, Sekretaris MA.

Tak mengherankan pihak KY menyerukan, para hakim yang kondangan segera melapor ke KPK, karena itu sudah masuk gratifikasi.

SS-17M

Kaya itu tak dilarang undang-undang. Kalau ada larangan, paling-paling cara memperoleh kekayaan tersebut. Dari ngandelin warisan, lewat kerja keras, ataukah hasil korupsi. Yang terakhir ini yang dilarang keras oleh negara dan agama. Dan di negeri ini, karena pejabat banyak melakukan itu, sehingga setiap pejabat kaya pun lalu jadi sorotan dan dicurigai.

Kecurigaan itu muncul, sebetulnya tinggal bagaimana dia memanfaatkan kekayaan tersebut. Jika pejabat kaya ke kantor pakai Toyota Kijang butut, atau ke mana-mana hanya pakai kaos T-shirt, orang takkan mencurigai. Dan kini Nurhadi Sekretaris MA dalam sorotan, karena dia mantu dengan cara begitu bermewah-mewah. Untuk souvenir saja bernilai Rp 1,75 miliar, lalu berapa biaya untuk perhelatan di Hotel Mulia?

Seperti pernah diakuinya, Nurhadi kaya memang dari sononya. Sebelum kerja di MA tahun 1980-an, dia sudah jadi pengusaha. Jadi kerja di MA baginya sekedar cari status. Begitu kayanya, ruang kerjanya pernah bikin heboh karena dia merombak swadaya dengan biaya Rp1 miliar. Jadi kalau menikahkan anak dengan biaya bermiliar-miliar, itu sah-sah saja. Kenapa orang repot, toh itu harta miliknya yang halalan tayiban.

Cuma yang ngganjel buat rakyat, di kala wong cilik masih sengsara sejak Indonesia merdeka hampir 70 tahun lalu, kok bisa-bisanya pejabat bermewah-mewah di tengah kemiskinan. Lihatlah ke bawah, ada yang mau nikah saja menunggu perkawinan massal, ada yang resepsinya terpaksa menutup jalan lingkungan, eh ini Pak Pejabat mantu saja kasih souvenir sampai senilai Rp700.000,- per undangan.

Padahal Bung Hatta dulu, sepatu luks Bally sebenarnya sangat kecil bagi seorang Wapres. Tapi karena bangsa Indonesia masih dililit kemiskinan, tak tega membelinya hingga akhir hayatnya. – gunarso ts