Friday, 21 September 2018

Nggak Apa-apa, Itu Rezeki

Kamis, 20 Maret 2014 — 6:40 WIB
gratfi

“BAPAK ikut pemilu?”

“Ya,ikut dong!”

“O,artinya,nanti Bapak mencoblos,dong?”

“Ya,pasti,dong! ”

Itu obrolan di satu teras rumah. Malam hari,sehabis Isa.”Sebenarnya ada apa sih,kok Mas ini tanya soal pemilu? Kan sebagai warga negara yang baik,kita harus mendukung agar pemilu legislatif dan presiden ini sukses. Kalau bukan kita,rakyat,siapa lagi?”

Lelaki penanya,yang disapa Mas itu tersenyum,dan dia bertanya lagi”Kira-kira Bapak mau pilih siapa,dan partai apa?”

“O,itu rahasia dong.Nanti itu urusan kita semua di bilik suara,”ujar si lelaki yang dipanggil Bapak itu.

“Bukan, maksud saya begini lo,misalnya partai yang kayak apa atau sosok  calon legislatif dan presiden yang kayak apa?” tanya si Mas lagi.

“O itu. Jelas saya akan pilih yang punya misi-visi bagus. Sesuai yang dikatakan dalam kampanye. Mereka pada berjanji,bahkan akan memimpin dan membangun bangsa ini lebih baik.Adil bijaksana, dan amanah.Akan pro rakyat. Tahu kemauan takyat,yakni mensejahterakan rakyat, nggak ada yang nganggur,mengurangi kemiskinan,akan mengelola sumber daya alam yang saat ini digarap  asing. Wah,pokoknya banyak lagi,deh!”

“Ya,semua kan pada janji-janji begitu?”kata si Mas.

“Lha, iya. Itu yang bakalan saya pilih.”

“Kalau ternyata mereka ingkar janji,dan malah pada memperkaya golongan dan diri sediri, korupsi,gimana?”

“Ah, itu kan bukan urusan saya. Itu urusan KPK!”

“Kalo KPK digembosi?” tanya si Mas lagi.

Si Bapak termangu,memandang si Mas. Dan dia bergumam,” Wah,tapi saya sudah terima sembako.Gimana ini?”

“Nggak apa-apa. Itu rezeki.”kata si Mas sambil pamit pulang. –massoes