Friday, 18 January 2019

TKW Tewas di Qatar Dikubur di Purwakarta

Senin, 31 Maret 2014 — 22:29 WIB
Ilustrasi mayat. (arif)

Ilustrasi mayat. (arif)

PURWAKARTA (Pos Kota) –  Jenazah Lilis Utari bin Saca Ibrahim ,30, tenaga kerja wanita (TKW) asal Rt19/05 Ds/Kec Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, yang diduga tewas dibunuh di tempat kernjanya, Qatar, akhirnya dipulangkan ke tanah air, kemarin.

Jenazah Lilis tiba di rumah duka disambut isak tangis keluarga dan teman korban. Mereka tak kuasa menahan sedih saat peti jenazah Lilis diturunkan dari mobil ambulance. Keluarga tidak sempat memeriksa kondisi tubuh korban, meski  kematian Lilis terbilang tidak wajar. Jasad Lilis langsung dimakamkan pada malam tersebut tidak kurang satu jam setelah jenazahnya tiba.

Sonjaya, satu aktifis LSM yang membantu kepulangan jenazah korban menuturkan, kematian Lilis hingga kini masih menyimpan misteri. Sebelum meninggal tubuh Lilis ditemukan tergeletak di depan Rumah Sakit di Qatar dengan kondisi tidak sadarkan diri. Kemudian meninggal saat dirawat intensif di rumah sakit tersebut.

“Saya mendapat informasi ini dari kedutaan. Bahkan, polisi di negara tersebut sudah memerikasa tiga orang yang diduga terlibat dalam kasus kematian Lilis,” ujar Sonjaya ditemui di rumah korban, Senin (31/3). Sementara, berdasarkan surat keterangan yang datang bersama jenazah Lilis, korban meninggal akibat sakit, “Ini yang menjadi misteri,”ungkapnya.

Disebutkan dia, keberangkatan Lilis menjadi TKW memang tidak melalui jalur resmi. Sebelumnya, Lilis sudah dinyatakan tidak lolos saat tes kesehatan di perusahaan penyalur jasa tenaga kerja Indonesia (TKI) di PT BGS di Jakarta, namun Lilis keukeuh  untuk tetap berangkat.

Dari Jakarta Lilis berangkat  ke Semarang terlebih dahulu, kemudian bisa berangkat ke luar negri dan berkerja di Qatar. Dia berharap Lilis mendapatkan asuransi kematian, sebagaimana TKW yang berangkat secara legal dari perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) maupun dari pemerintah.

Mak Eri, ibu kandung Lilis mengaku pasrah dengan apa yang menimpa anaknya. Keluarga tidak bisa berbuat banyak untuk menempuh langkah hukum meskipun dugaan pembunuhan yang menimpa anknya itu benar. “Emak mah, nyerahkeun sagala-galana ka anu berwenang, utamana pamarentah, rumasa jelema teapal nanaon urang mah, bodo. (Kami menyerahkan segalanya kepada pemerintah, kami orang yang tidak tau apa-apa, orang bodoh),”kata Eri sedih.(dadan/yo)