Wednesday, 26 September 2018

Iklan `Kugaih Janjimu`

Siti Zuhro: Jokowi Seharusnya Tak Perlu Marah

Rabu, 2 April 2014 — 11:05 WIB
Foto- Siti Zuhro

Foto- Siti Zuhro

JAKARTA (Pos Kota) – Peneliti Politik dari LIPI, Siti Zuhro, mengatakan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo seharusnya tidak perlu marah  dan melakukan langkah hukum untuk menggugat televisi maupun pemasang iklan televisi “kutagih janjimu”. Jokowi justru seharusnya menjelaskan mengenai janji-janjinya kepada mayoritas masyarakat Jakarta yang belum dipenuhinya.

“Yah tidak perlu marah. Bagaimanapun semua janji itu adalah “utang” yang harus dibayar. Jadi kalau sebelumnya ketika dia melamar ada komunikasi yang intensif dan terlontar janji-janji, maka setelah  dia menang dan dilantik jadi Gubernur Jokowi seharusnya menjaga komunikasi itu dengan menjawab mengapa dia tidak menepati janjinya. Iklan itu kan bentuk komunikasi menagih janji Jokowi, jadi dia harus jawab,” ujar Siti kepada wartawan di Jakarta, Rabu (2/4).

Siti sendiri sudah menduga dan sudah mengingatkan sejak awal, serangan terhadap Jokowi akan intensif dari rival-rival yang tentunya akan mencari sisi yang bisa dijadikan komuditas politik.Namun sayangnya kritik yang bertujuan untuk mengingatkan ini oleh pihak Jokowi selalu dibantah dan yang mengkritik selalu dituduh sebagai pihak yang tidak menyukai Jokowi.Kalau tidak mau dikritik menurutnya maka seharusnya Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai presiden.

”Pemenuhan janji ini termasuk isu seksi.Ini kan harusnya diantisipasi dari awal dan direspon dengan cepat dan baik supaya tidak berkembang liar.Saya termasuk orang yang setuju Jokowi jadi gubernur, tapi ketika saya sampaikan kritik untuk berhati-hati malah dituduh sebagai orang yang anti Jokowi.Makanya kalau diingatkan jangan marah,” tambahnya.

Menurut Siti dirinya sering mengingatkan bahwa dalam pemerintahan ada etika yang harus dijaga. Makanya dia menyesalkan ketika Jokowi menyatakan bahwa dirinya mendapatkan mandat dari Ketua Umum PDIP, Soekarno Putri untuk maju sebagai calon presiden, dirinya hanya mencium bendera dan pergi tanpa memberikan penjelasan.

“Harusnya kan dia bisa menjelaskan alasan pencalonan dirinya meski menjadi presiden adalah hak warga negara, tetap dia tetap harus mengemukan alasannya karena dia dipilih oleh rakyat secara langsung. Masak ketika mau jadi presiden, masyarakat DKI yang sudah memilihnya ditinggalkan begitu saja.Harusnya kan dia bisa pamit dan berterima kasih pada masyarakat Jakarta yang telah mempercayainya dan menjelaskan karena desakan masyarakat luas. Jokowi harusnya mengerti basa basi,” imbuhnya.

Dia pun kembali memberika saran untuk tidak perlu mengambil langkah hukum dan marah akan iklan tersebut. “Gak usah marah, kan kelebihan Jokowi itu di senyumnya.Dia dipandang cool, rendah hati jujur, tidak sombong, merakyat.Masyarakat kan jadi bertanya nantinya kok sekarang tidak lagi seperti itu,” tegasnya.

Siti pun mengkritik Komisi Penyiaran Indonesia yang seharusnya independen dan netral secara politik. Masyarakat menurutnya harus jelasnya harus sadar dan mengingatkan KPI mengapa untuk iklan ini KPI bergerak cepat dengan memberikan tegura, tapi ketika televisi menyiarakan berita-berita yang tidak berimbang terhadap lawan-lawan politik dari pemilik televisi, KPI justru tidak melakukan apapun.

“KPI juga harus diingatkan dan rakyat yang harus melakukannya. Jangan ada perlakuan diskriminatif. Kalau dikatakan itu black campaigh, apa berita-berita negatif terhadap lawan-lawan politik pemilik media itu dibolehkan? Masyarakat harus sadar dan mengingatkan KPI juga,” tandasnya.

Menanggapi hal itu Jokowi sendiri tengah mempertimbangkan menempuh jalur hukum. Menurut Jokowi iklan tersebut sudah menyudutkan dirinya. “Kita sedang diskusikan mengenai iklan itu. Kita juga akan pertimbangkan ambil langkah hukum,” ujar Jokowi usai makan siang di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (29/3).

Teguran KPI terhadap media televisi yang menayangkan iklan itu menurut Jokowi belum cukup dan berharap akan ada tindakan dari PDIP. “Memang sudah mendapat teguran dan tindakan dari KPI, tapi kita juga masih dalam proses, sedang didiskusikan. Nanti kemungkinan Senin akan ada keputusannya,” terangnya.

(prihandoko/sir)

  • arifin

    Emang siapa yang marah Bu? Pak Jokowi kan bilang #Akurapopo doang? Yg mau disomasi itu pihak televisi yang menayangkan iklan tanpa ijin, jadi sifatnya administratif, tapi jelas ditujukan ke pemilik TV RCTI dan MNCTV yang menayangkan iklan itu, Hary Tanoe, cawapres partai Hanura.