Wednesday, 18 September 2019

Arifin Penghuni Panti Sosial

Usai Mencoblos Hidup Serasa Hampa

Rabu, 9 April 2014 — 16:09 WIB
wbs1

SEBATANG kara dan luntang lantung hidup di Jakarta, membuat Arifin,62, terdampar di panti sosial.

Sejak tahun 2012 warga Pandeglang, Jawa Barat resmi sebagai warga binaan sosial (WBS) Panti Werda Budi Mulia (WBM) 4 di Jl Margaguna, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebelumnya selama 9 hari menginap di panti sosial di Cengkareng, Jakarta Barat.

Berjalan perlahan dibantu sepasang tongkat, Arifin menuju bilik suara. Sekitar lima menit menggunakan haknya, ia lalu ke meja panitia menyerahkan kertas suara seraya membubuhkan cap kelingking kirinya.

“Hidup saya kini hampa, saya hanya bisa pasrah kepada Yang Kuasa,” ujarnya usai mencoblos di TPS 78 di panti tersebut, Rabu (9/4).”Semoga pemimpin yang terpilih dapat betul-betul menyejahterakan warga miskin.”

Bapak lima anak ini mengaku ditinggal pergi sang istri yang bekerja sebagai TKI di Malaysia sekitar 1987. Semula hanya sebagian anak yang dibawa, beberapa tahun kemudian seluruh anaknya diboyong ke negeri Jiran itu.

Menjadi yatim sejak usia 6 bulan di kandungan, anak ketiga dari 5 bersaudara ini hanya mampu bersekolah di Sekolah Rakyat di kampungnya.

Setelah itu ia harus banting tulang bekerja menghidupi dirinya dengan merantau ke Ibukota. Namun angan-angannya pupus manakala kemampuannya sangat terbatas untuk bisa eksis.

Ia akhirnya hanya berkutat bekerja serabutan di antaranya pekerja bangunan lepas. Puncaknya saat ia terjatuh dari lantai dua dan kaki kirinya patah.

Dengan kondisi itu, nasib Arifin makin terpuruk. Sempat mengontrak petakan di Jakarta Utara, ia akhirnya menyerah dan minta diantarkan ke panti sosial kepada pamong setempat.

Kini di panti WBM 4, Arifin mengisi hidupnya dengan beribadah. Saat ditanya caleg dari parpol mana yang dipilih, ia hanya menarik napas panjang. “Saya bingung saking banyaknya caleg dan parpol yang harus dipilih,” lirihnya.

Yanti Afandi, Kepala Panti WBM 4 menuturkan pihaknya berhasil melobi KPPS 78 Gandaria Utara untuk jemput bola ke panti itu.

“Kasihan sekali jika WBS di sini yang sebagian besar berusia di atas 65 tahun harus datang nyoblos di TPS 78 di RW 15,” terangnya.

Dari 207 WBS, hanya 47 WBS yang berhak menyoblos dengan memiliki KTP DKI. Selebihnya tidak ada identitas dan sebagian mengidap gangguan jiwa (psikotik).

Sebagian WBS yang sudah sepuh harus menggunakan kursi roda menuju TPS yang berada di ruangan aula.

Iwan Abas, Ketua RW 15 Gandaria Utara menuturkan TPS 78 di panti WBM 4 sebagai cabang TPS 78 di RW 15.

“Usai pencoblosan, kertas suara dikawal petugas Babinkantibmas dibawa ke RW 15 untuk dihitung,” katanya. (Rachmi)