Tuesday, 18 September 2018

Ini Dia Penyebab Prabowo Efek Lebih Unggul Daripada Jokowi Efek

Kamis, 10 April 2014 — 22:13 WIB
efek

JAKARTA (Pos Kota) – Saat ini berbagai media menyoroti gagalnya Jokowi Effect mendongkrak perolehan suara PDIP. Berikut ini adalah analisa Dewi Haroen, Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang juga pakar personal branding, dan penulis buku “Personal Branding, Kunci Kesuksesan Berkiprah di Dunia Politik”

1). Berbagai lembaga survey yang sebelumnya berkoar bahwa pencapresan Jokowi akan membuat PDIP menang telak di Pileg dengan kisaran angka di atas 30% ternyata pepesan kosong belaka. Meski menjadi pemenang, PDIP hanya mampu meraih suara 19%, selaras dengan perkiraan hasil survey sebelum Jokowi resmi dideklarasikan menjadi capres PDIP. Bahkan justru partai-partai yang berbasis ideologi Islam yang sebelumnya diperkirakan ditenggelamkan oleh ketokohan Jokowi ini justru meraih hasil yang menggembirakan dengan kenaikan perolehan suara signifikan. Kondisi ini membuat banyak orang surprise.

2). Publik membandingkan dengan Prabowo Effect yang secara kasat mata hasilnya terlihat jauh lebih baik dibanding Jokowi Effect dimana Gerindra yang pada pemilu 2009 meraih 4,46% secara nasional, saat ini menurut quick qount menempatai urutan ke tiga dengan meraih suara di kisaran 11 – 12 %.

3). Mengapa bisa demikian? Dari berbagai analisa, ada kenyataan yang luput dari mata pengamat. Yaitu kejelian dari Prabowo Subianto untuk memilih orang-orang komunikasi yang berada di batisan belakangnya. Pemilihan orang-orang yang tepat untuk memudahkan komunikasi antara media dengan dirinya juga merupakan kunci penting dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya.

4). Tim media dan komunikasi Prabowo terlihat bekerja maksimal melalui berbagai media termasuk sosial media yang dulunya dikuasai oleh Jokowi. Sehingga personal branding Prabowo sebagai pribadi yang bersikap tegas terhadap apapun, antikorupsi, jiwa sosialnya yang sangat tinggi, serta konsep ekonominya yang sangat jelas untuk memakmurkan rakyat yang kuat, secara terus menerus dikomunikasikan dengan baik dan konsisten kepada swing voters sampai hari H pencoblosan.

5). Rupanya hal ini yang tidak disadari oleh Jokowi dan tim pendukungnya dari PDIP. Bisa jadi mereka sama sekali tidak mempelajari bagaimana Jokowi berhasil dalam Pilkada DKI. Mereka merasa di atas angin karena menganggap Jokowi ‘media darling’ serta terbuai dengan hasil survei.

6). Tim pendukung Jokowi juga tidak terlihat melakukan upaya yang nyata sehingga pemilih tidak mendapat informasi yang cukup. Selain itu pada saat-saat akhir jelang kampanye dimana mulai ada pergeseran persepsi masyarakat terhadap figur Jokowi yang disebut sebagai capres boneka dan selalu ‘manut’ pada Mega. Padahal situasi dan kondisi yang ‘rawan’ seharusnya disikapi dengan cerdas oleh tini, tapi kenyataannya tidak disadari oleh tim Jokowi sehingga pembiaran ini akhirya berharga mahal dengan tidak efektif nya personal brand Jokowi terhadap PDIP di Pileg 2014.(rizal)

Jokowi kampanye untuk PDIP