Tuesday, 12 December 2017

Jepang Butuh Banyak Perawat Asal Indonesia

Senin, 21 April 2014 — 8:26 WIB
perawat-lansia

JAKARTA (Pos Kota) – Indonesia diminta mendatangkan lebih banyak lagi tenaga perawat dan careworker (pengasuh orangtua lanjut usia/jompo)  ke Jepang, karena  perawat dari Indonesia sangat diterima oleh masyarakat Jepang.

Permintaan tersebut disampaikan  rombongan tamu Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELLS) yang terdiri dari pemilik dan pimpinan panti jompo di Jepang kepada Kepala BNP2TKI Gatot Abdullah Mansyur.

“Kamis (17/4), kami menerima JICWELLS. Dan Pimpinan Persatuan/ perkumpulan Fasilitas Kesejahteran (Panti Jompo) wilayah Ibaraki Perfecture Hiroshi Furuya meminta agar pengiriman perawat ke Jepang, ditambah jumlahnya karena perawat Indonesia dinilai ramah dan berhati lembut,” kata Gatot, Senin (21/4).

Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya,  Hiroshi memaparkan, di wilayah Ibaraki yang terletak 50 kilometer dari Tokyo, ada 1.100 yayasan atau perusahaan yang mempekerjakan tenaga careworker. “Saya berharap jika satu yayasan mempekerjakan 1 saja tenaga asal Indonesia, maka terkumpul 1.100 careworker asal Indonesia,” kata Gatot mengutip Hiroshi.

Rombongan tersebut menilai jumlah perawat dan careworker yang jumlahnya hanya  1.048 orang di Jepang, masih terlalu kecil. Diperkirakan  pada tahun 2015, Jepang membutuhkan 1 juta tenaga perawat dan careworker, diharapkan kebutuhan sebanyak ini mayoritas bisa dipenuhi tenaga perawat dari Indonesia.

Menanggapi keluhan ini, Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah Deputi Bidang Penempatan BNP2TKI Haposan Saragih, menjelaskan, minat para TKI perawat ke Jepang setiap tahun meningkat.

“Namun karena  ketatnya pelaksanaan seleksi, membuat mereka yang lulus dan diterima bekerja di Jepang jumlahnya menjadi sedikit. Tapi  setiap tahun prosentasenya meningkat,” ujar Haposan.

Sejumlah anggota  JICWELS, lanjutnya,  dalam pertemuan ini meminta Pemerintah Indonesia melonggarkan syarat seleksi TKI perawat yang akan bekerja ke Jepang. Selama ini syarat untuk seleksi perawat minimal lulusan D3 perawat bisa diturunkan menjadi setingkat SMK.

Deputi Penempatan BNP2TKI Agusdin Subiantoro, menanggapi usulan ini dengan menyarankan anggota JICWELS menyampaikannya kepada pemerintah Jepang. Menurut Agusdin, Pemerintah Indonesia akan mengikuti jika usulan itu disetujui.

“Saat ini syarat bekerja menjadi perawat di Jepang haruslah yang sudah berpengalaman 2 tahun. Sebenarnya kami kesulitan mencarinya, karena rata-rata sudah bekerja. Jika syarat ini diturunkan menjadi setahun saja, peminatnya lebih banyak. Apalagi jika JICWELS meminta syarat SMK, pasti yang berminat lebih banyak lagi,” ujar Agusdin. (tri/yo)

Foto: Istimewa

  • Musra Quera

    bagaimana kedepan nya, ……???