Tuesday, 25 September 2018

Jangan Sembarang Dagang

Sabtu, 3 Mei 2014 — 7:10 WIB

Oleh S Saiful Rahim
“WAH sekarang orang tidak bisa lagi sembarang dagang. Banyak aturan yang harus ditaati,” kata Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Margo.

Tidak seperti biasanya, kali ini dia masuk ke warung tanpa memberi salam, dan duduk tanpa mencomot singkong goreng dulu.

“Ah, sejak dulu juga orang tidak boleh sembarang dagang. Misalnya tidak boleh dagang narkoba, tidak boleh dagang orang, tidak boleh dagang senjata gelap. Dan macam-macam lagilah. Tapi kalau dagang minuman dan gorengan macam Mas Wargo ini, bukan hanya boleh bahkan terpuji,” tanggap orang yang duduk di dekat pintu masuk yang tadi bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Kalau itu sih anak yang belum lahir juga sudah tahu. Yang aku maksud sekarang orang tidak boleh dagang di sembarang tempat,” jawab Dul Karung sambil menyeruput teh manis yang baru saja diletakkan Mas Wargo.

“Sejak dulu pun begitu. Orang tidak boleh berjualan atau dagang di tengah jalan raya, misalnya. Tak boleh jualan di kamar operasi dokter, meskipun yang dijualnya itu obat,” potong orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang yang hanya satu di warung itu.

“Barangkali yang dimaksud si Dul sekarang tempat orang dagang kian dibatasi. Setelah dilarang di lampu merah, dibatasi di kakilima, kini di areal Monas pun orang dilarang berdagang. Bahkan kelak, bukan berdagang saja dilarang di Monas, belanja pun dilarang. Siapa saja yang membeli apa saja di areal Monas akan dikenakan denda sampai Rp 20.000.000. Bayangkan kalau beli kacang Rp 2.000 kena denda Rp 20.000.000. Itu kan berarti dendanya 20.000 kali lipat. Lha yang korupsi miliaran saja dendanya tidak segede itu?” jelas orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Nah, itu yang aku maksud. Orang akan bertanya di mana letak keadilan, meskipun mereka tahu di mana letak Gedung Pengadilan. Yang datang ke Monas kan bukan hanya warga Ibu Kota, tapi juga mereka yang datang dari ujung kampung di pojok Nusantara, mana mereka tahu ada larangan belanja di Monas?” kata Dul Karung dengan suara menggelegar seperti meriam karbit.

“Maksud Pemprov DKI Jakarta bukan ingin melarang orang berdagang atau belanja, tapi sekadar ingin menertibkannya saja. Sebuah kota, apalagi Ibu Kota, akan tampak lebih menarik dan indah bila tertib. Kalau bisa tertib seperti warung Mas Wargo ini, baik pedagang maupun pembelinya takkan diutak-atik meskipun ada pelanggannya yang berutang terus,” sela orang berpakaian perlente yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

Beberapa orang yang mendengar ujung ucapan orang itu pun tersenyum. Bahkan ada yang tertawa. Tentu saja itu bukan Dul Karung.

“Rupanya tak seorang pun di warung ini yang tahu bahwa aku berutang terus-menerus bukan semata-mata tidak punya uang. Tapi berharap sekali tempo akan menerima penghargaan MURI sebagai orang yang paling dipercaya berutang,” kata Dul Karung seraya meninggalkan wsarung. (syahsr@gmail.com )