Wednesday, 14 November 2018

Ironi Kekerasan di Dunia Pendidikan

Selasa, 6 Mei 2014 — 6:25 WIB

BUDAYA kekerasan di kalangan siswa, menodai dunia pendidikan. Kekerasan ibarat sudah mendarah daging, bahkan sampai ke tingkat Sekolah Dasar (SD). Sungguh mengerikan fenomena ‘homo homini lopus’ atau ‘manusia menjadi srigala terhadap sesamanya’ kini menggejala di kalangan generasi muda.

Aksi kekerasan di kalangan anak, remaja, pelajar dan mahasiswa adalah sebuah ironi bagi dunia pendidikan. Baru saja kita dikejutkan dengan tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) di tangan seniornya, kini kasus kekerasan ‘menular’ pada bocah SD.

Renggo Khadafi, 11, siswa SDN 09 Makasar Jakarta Timur, Minggu (4/4) menemui ajal akibat digebuki kakak kelasnya anak kelas V SD, hanya karena es pisang seharga Rp1.000. Tahun lalu, tepatnya April 2013 di Bekasi seorang bocah kelas I SD, Nur Afiz Kurniawan juga tewas dikeroyok temannya gara-gara uang Rp1.000.

Kasus-kasus di atas hanyalah sebagian dari deretan peristiwa kekerasan dengan pelaku dan korbannya pelajar. Belum lagi kasus lainnya, tawuran misalnya, yang juga kerap merenggut nyawa pelajar. Masih segar dalam ingatan kita peristiwa kelam di Sukabumi tahun silam, dimana 4 siswa SMK Pertanian Sukabumi tewas tenggelam dan dua lainnya dibacok setelah dikejar-kejar pelajar dari sekolah lain.

Apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan kita ? Aksi yang dilakukan anak-anak dan remaja belakangan ini seperti di luar nalar karena bukan lagi kenakalan biasa, melainkan menjurus ke aksi kriminal. Kita tidak perlu saling menuding, menyalahkan satu sama lain. Pendidikan bagi anak adalah tanggungjawab bersama baik keluarga, lingkungan tempat tinggal maupun sekolah.

Pendidikan dimulai pada lingkungan terdekat, yakni keluarga. Karakter anak dibentuk dari dalam rumah, orangtualah yang wajib mendidik, mengawasi dan membentengi anak dari pengaruh negatif. Di luar rumah, anak berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggal, serta di sekolah tempatnya menimba ilmu pengetahuan. Tapi bukan berarti sekolah lepas tangan pada pembentukan karakter anak. Dan yang paling bertanggungjawab pada perkembangan generasi muda di negeri ini adalah pemerintah.

Usia anak hingga remaja adalah usia labil. Pada usia rawan itu anak mencari jatidiri, pengakuan dan perhatian. Saatnya seluruh elemen masyarakat membuka mata dan peduli pada fenomena kekerasan di kalangan generasi muda. **