Friday, 21 September 2018

Lokasi Eksekusi Pedofil Terbengkalai

Selasa, 6 Mei 2014 — 2:11 WIB
biru1

SUKABUMI (Pos Kota) – Pemerintah Kota Sukabumi secara tidak langsung punya tanggung jawab atas insiden kasus pelecehan seksual (fedofelia) yang dilakukan Andri Sobari alias Emon terhadap puluhan bocah laki-laki. Salah satu alasannya karena lokasi “eksekusi” fedofilia terjadi di eks Taman Pemandian Santa Lio yang menjadi aset Pemda Kota Sukabumi.

Pemandian wisata Taman Air Panas Santa (TAPS) yang berlokasi di Kampung Lamping Kelurahan Cikondang Kecamatan Citamiang Kota Sukabumi pernah menjadi kebanggan masyarakat Kota Sukabumi. Pada masa keemasannya, keberadaan objek wisata pemandian Santa sempat menyedot perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Mereka datang kelokasi objek wisata Santa selain menikmati air panas.

Namun hampir selama 10 tahun, salah satu objek andalan wisata Kota Sukabumi ini menjadi terbengkalai. Kondisinya semrawut karena tidak dikelola secara baik. Karena terbengkalai, lokasi ini kerap sering dijadikan tempat mesum. Banyak pihak yang menyayangkan terbengkalainya pengelolaan Taman Santa Lio.

Pasalnya, lokasi ini banyak menjadi incaran para investor. Tercatat ada beberapa investor yang sudah mengajukan permohonan untuk pengelolaan objek wisata ini. Bahkan pada masa kepemimpinan Walikota Sukabumi Muslikh Abdussyukur, pernah terjadi penandatangan kesepakatan dengan pihak swasta.

Ternyata di balik terbengkalainya pengelolaan Taman Santa Lio, kini muncul peristiwa heboh yang dilakukan Andri Sobari alias Emon, 24.  Dia justru memanfaatkan lokasi ini untuk melampiaskan hawa nafsunya. Edannya, pelampiasan seks Emon dilakukan terhadap puluhan bocah laki-laki di bawah umur.

Predator seksual asal Sukabumi ini sering terlihat di sekitar pemandian air panas di mana dia beraksi. Emon sering duduk sendirian di sebuah bangku di dekat lokasi itu. Seorang pemilik warung, Enjang Mulyana, 50, mengaku sering melihat Emon.

“Sering lihat orang ini. Memang ya sering duduk di bangku itu. Sendirian aja. Nggak pernah kelihatan sama anak kecil,” kata Enjang saat ditemui di lokasi. Enjang mengatakan jika Emon sering terlihat sekitar pukul 10.00 WIB hingga selepas pukul 12.00 WIB. Penampilan Emon tampak biasa dan tidak mencolok.

“Orangnya biasa aja, nggak kurus nggak gemuk. Biasa ada di sekitar sini ya nggak tentu, kadang jam 10-an atau abis dzuhur,” kata Enjang. Menurut Enjang, anak-anak kecil biasanya bermain di lokasi pemandian pada siang atau sore hari.

Meski bersisian dengan perkampungan warga, kondisi di sekitar lokasi cenderung sepi. Hanya tampak beberapa anak muda yang nongkrong di sebuah taman bernama Taman Santa di seberang pemandian. (sule/yo)

Teks foto: Tempat predator seksual Emon melakukan aksi bejatnya kepada anak kecil. (sule)