Tuesday, 20 November 2018

Dikukuhkan Jadi Guru Besar

AM Hendropriyono Profesor Intelijen Pertama di Dunia

Rabu, 7 Mei 2014 — 13:57 WIB
AM. Hendropriyono.(dok)

AM. Hendropriyono.(dok)

JAKARTA (Pos Kota) – Jenderal (Purn) TNI AM Hendropriyono dikukuhkan menjadi guru besar atau profesor pertama bidang filsafat intelijen oleh senat guru besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu. Ia sekaligus profesor pertama intelijen di dunia, dan ditandai dengan rekor MURI oleh Jaya Suprana.

Pada kesempatan itu, pimpinan senat guru besar STIN Prof Priyatna Abdurasyid menyatakan, dengan 850 cum, Dr AM Hendropriyono diangkat jadi guru besar, profesor intelijen, STIN. Penetapan itu melalui keputusan Mendikbud M Nuh, di Jakarta, tahun 2014.
Acara ini dihadiri para tokoh nasional, seperti mantan Presiden Megawati, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Waktum Partai Gerindra Fadli Zon, mantan Ketua PP Muhamadiyah Syafii Maarif, para purnawirawan TNI, dan ratusan hadirin di ruangan bernuansa merah putih itu.

Hendropriyono sendiri dalam pidato pengukuhannya menyatakan, selama ini bicara filsafat, orang akan mengerutkan kening. Terlebih filsafat intelijen, ini bidang yang belum pernah disinggung. Akibatnya berbagai persoalan praksis intelijen seringkali luput dari pemeriksaan filosofis. Kita tidak pernah mempertanyakan perkara fundamental (mendasar) mengenai keamanan nasional, khususnya bagaimana intelijen berperan dalam melindungi keamanan nasional.
“Di sinilah filsafat intelijen menjadi kegelisahan akademik saya sejak lama. Hakikat intelijen adalah tindakan yang cepat (velox) dan tepat (exactus) demi keselamatan negara. Intelijen tidak beroperasi postfactum atau pasca kejadian layaknya penegakan hukum,” ujarnya.

Menurutnya, dalam intelijen adalah mengumpulkan informasi secara cepat dan akurat untuk mencegah terjadinya kejadian yang membayakan negara. Dengan demikian intelijen tidak bergumul dengan pengetahuan ilmiah melainkan informasi. Intelijen tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksa sebuah informasi melalui metode ilmiah.
“Sebab itu, intelijen memeriksa informasi berdasarkan kesahihan sumber dan logika. Informasi yang diperoleh juga harus logis atau tidak memiliki kontradiksi dengan informasi-informasi lainnya,” ujarnya.

Ditegaskannya, meski selalu berpacu dengan waktu, intelijen tidak dapat begitu saja mengabaikan etika. Imperatif etika tertinggi yang menuntun praktik intelijen adalah melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.
“Secara geografis, intelijen negara RI telah berada dalam lingkup ada yang lebih utama, yaitu negara Pancasila. Perenungan hakikat intelijen negara RI yang merupakan bagian dari filsafat Pancasila, perlu menemukan cara agar abstraksi itu dapat berurusan dengan realitas empirik,” ujarnya.

Pada kesempatan itu Hendropriyono mengucapkan terima kasih kepada Megawati sewaktu menjadi presiden mengapresiasi idenya sewaktu memimpin BIN, yakni untuk mendirikan sekolah intelijen.
S-1 di Sentul dan S-2 di Batam, tapi yang di Batam tidak berlanjut setelah ganti rezim.

“Gedung di Batam ditempati burung walet, bolehlah dikilokan. Teerima kasih juga kepada Mendikbud waktu itu, Prof Malik Fajar yang banyak membantu, dan juga Mendikbud sekarang Prof M Nuh, yang akhirnya menetapkan saya sebagai profesor pertama bidang intelijen,” ujarnya.
“Saya berterima kasih kepada UI dan Prof Burhan Magenda yang telah mendirikan program studi magister intelijen di UI dengan segala penyempurnaanya, sebagai ganti kampus di Batam,” ujar Hendro.

Pendiri Museum MURI, Jaya Suprana menyatakan, MURI memberikan penghargaan berdasarkan fakta, kalau Nobel berdasarkan opini. Faktanya sekarang Hendropriyono menjadi maha guru atau profesor inteleijen pertama, bukan saja di Indonesia, tapi juga di dunia. Maka ini bisa dikukuhkan sebagai rekor dunia.

“MURI memang tidak sempurna, tapi fakta profesor intelijen pertama ini sudah kuat. Hanya bisa digugurkan kalau ternya bukan mahaguru intelijen pertama di Indonesia atau di dunia,” ujar Jawa yang kemudian memberikan anugerah kepada Hendro.

(winoto/sir)