Friday, 16 November 2018

Industri Alas Kaki Mampu Serap Tenaga Kerja

Kamis, 29 Mei 2014 — 11:06 WIB
Menteri Perindustrian,  MS Hidayat.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat.

JAKARTA (Pos Kota) – Industri tekstil dan alas kaki menjadi andalan industri manufaktur karena mampu menyerap banyak tenaga kerja, memenuhi kebutuhan sandang dalam negeri, dan menyumbang devisa ekspor non migas yang cukup signifikan.

Untuk meningkatkan daya saingnya di pasar dalam dan luar negeri, Kementerian Perindustrian (Kemperin) terus mendorong pengembangan industri tekstil dan alas kaki nasional, kata Menteri Perindustrian, MS Hidayat, saat membuka Gelar Sepatu, Kulit dan Fesyen 2014 di Jakarta.

Menurutnya, kinerja industri non migas yang tumbuh sebesar 6,25% atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,78 %, didukung oleh pertumbuhan positif pada seluruh kelompok industri non migas, diantaranya industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki yang tumbuh sebesar 6,06 % atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhannya tahun 2012 sebesar 4,27%.

Ia menambahkan, nilai ekspor produk tekstil pada tahun 2013 mencapai 12,68 miliar dolar AS. Demikian juga dengan produk alas kaki yang mencapai 3,86 miliar dolar AS. “Selain nilai ekspor yang cukup besar, surplus neraca perdagangan produk tekstil dalam 5 tahun terakhir secara rata-rata mencapai 4,5 miliar dolar AS per tahun, demikian juga dengan industri alas kaki surplus ekspornya selama 5 tahun terakhir rata-rata mencapai 2 miliar dolar AS,” ujarnya.

Dengan nilai ekspor tersebut, lanjutnya, Indonesia mampu memenuhi sekitar 1,8% kebutuhan dunia akan produk tekstil dan memenuhi sekitar 3% kebutuhan dunia akan produk alas kaki.

TENAGA KERJA

Menperin menambahkan, kedua kelompok industri tersebut juga menyerap banyak tenaga kerja. Untuk industri tekstil tenaga kerja yang terlibat mencapai 1,55 juta orang, sedangkan industri alas kaki tenaga kerja yang terlibat sekitar 750 ribu orang.

Namun Hidayat mengingatkan, globalisasi perdagangan dunia sangat berdampak pada perdagangan nasional. Hal ini harus disikapi secara cermat terutama oleh dunia usaha nasional.

Adanya kecenderungan perjanjian kerjasama, baik bilateral, regional maupun multilateral atau dikenal dengan Free Trade Agreement (FTA) menyebabkan produk-produk dari negara mitra kerjasama lebih mudah keluar masuk ke Indonesia, namun sebaliknya FTA juga dapat memberikan dampak positif terhadap industri nasional melalui perluasan akses pasar.

(tri/sir)