Monday, 16 July 2018

Boleh Dong, Kalau Beda Dukungan?

Selasa, 3 Juni 2014 — 8:42 WIB
setal

“JADI Abang tetap dukung nomor satu?”tanya sang istri pada Bang Jalil pagi itu sambil sarapan nasi uduk.

“O,iya.Soal dukung mendukung Abang tetap nomor satu,dong!” kata Bang Jalil,tegas. Dan katanya lagi,”Malah,Abang sih menganjurkan,kalau bisa Ibu juga punya pikiran yang sama.Mengikuti jejak Abang.”

“O,nggak bisa dong. Ibu kan juga punya pilihan. Ibu tetap mendukung nomor dua!” kata sang istri,mantap.

Bang Jalil diam, pikirannya melayang.Sudah menjadi rahasia umum,Bang Jalil di kampungnya sangat dihormati,dan punya pengaruh yang luar biasa. Kalau Bang Jalil,bilang A,orang akan bilang A, tanpa kecuali. Namun,di interen keluarga, Bang Jalil tak mampu menaklukan sang istri.

Nah sebagai orang yang berjiwa demokrasi,Bang Jalil harus berjiwa besar.Dalam rumah tangga,boleh Bang Jalil sebagai pemimpin,tapi soal politik,urusan masing-masing.

Begitu kan? Coba,dalam partai saja bisa berbelah. Lihat tuh,satu partai ada yang mendukung nomer satu,dan ada pula yang mendukung nomor dua. Masing-masing pada cari yang nyaman.

Malah dalam hitung-hitungan secara matematik,sangat menguntungkan,jika dalam satu partai berbelah,ada yang mendukung kiri kanan. Soalnya,kata para pengamat,siapa pun nanti yang keluar jadi pemenang, secara lembaga partai atau kelompok tersebut masih aman.Orang-orang mereka masih tetap dapat jatah jabatan.

Siasat ini nampaknya sudah dikaji dan dipikirkan secara masak oleh suami istri tersebut. Bang Jalil dan istrinya,memang rakyat biasa, orang kecil,tapi sekarang ini lagi musim politik,Bung!

Jadi boleh dong, kalau Bang Jalil dan istri beda pilihan? Boleh-boleh saja,yang penting,mereka berjanji,siapa pun yang menang atau kalah, keduanya tetap sebagai suami istri. Setuju?

“Hidup nomor satu!”teriak Bang Jalil,penuh semangat.

“Hidup nomor dua!” teriak sang istri,nggak kalah semangat.-massoes