Wednesday, 26 September 2018

Proyek Sodetan Kali Ciliwung Terkendala Pembebasan Lahan

Jumat, 6 Juni 2014 — 7:20 WIB
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

JATINEGARA (Pos Kota) – Lambannya pekerjaan tim Panitia Pembebasan Lahan (P2T) Jakarta Timur yang baru dalam tahap inventarisir rumah penduduk, membuat proyek sodetan kali Ciliwung molor. Padahal sesuai jadwal, proyek tersebut ditargetkan rampung Februari 2015 mendatang.

Pembebasan lahan tersebut lantaran di tiga RW seperti RW 04, 05 dan 14 Kelurahan Bidaracina, akan dijadikan saluran inlet (pintu masuk air dari Ciliwung menuju KBT) yang akan menghubungkan kali Ciliwung dan Kanal Banjir Timur (KBT). Di kawasan itu pula, 300 rumah yang dihuni ratusan jiwa akan terkena imbas proyek sodetan tersebut.

Meski pengerjaan awal untuk arriving shaft atau titik pertemuan mata bor dari outlet dan inlet, yang dikerjakan di Jl Otista III Cipinang Cempedak, Jatinegara, sudah mulai dikebut sejak satu bulan lalu, namun tidak terlihat pengerjaan di pinggir Kali Ciliwung. Saat ini, baru proses verifikasi data warga baru dilakukan setengahnya oleh P2T Jakarta Timur.

Galuh Riyadi, Ketua RW 04 Bidaracina, Jatinegara, mengatakan, di wilayahnya ada sekitar 200-300 KK warga yang terancam terkena pembebasan lahan untuk pembuatan proyek tersebut. Mereka terdapat di RT 02, 04, 07, 09 dan 10, yang mayoritas warganya menolak pembebasan lahan. “Sebagian besar warga memang belum setuju dengan pembebasan lahan tersebut,” katanya, (5/6).

Menurut Galuh, sebagian besar warga khawatir dengan biaya ganti rugi yang diberikan pemerintah. “Warga memang mendukung program pemerintah, tapi mereka mengaku mengharapkan ganti rugi yang diberikan harus sepadan,” ujarnya.

Ditambahkannya,sosialisi belum menyentuh warga. Untuk itu, mereka mengharapkan kembali diadakan sosialisasi sekaligus penetapan harga atas tanah tersebut. “Tahapan sosialisasi belum ada lanjutannya dan masih stagnan, kami juga masih perlu penjelasan dan banyak aspirasi yang ingin disampaikan warga,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua RW 05 Bidaracina, Sudarno menambahkan, ada sekitar 100 KK di RT 06, yang terkena pembebasan lahan. Diperkirakan luasnya 2.500-3.000 meter persegi. Lahannya sangat luas karena banyak tanah kosong dan ada juga sebagiannya yang daerah padat penduduk.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim P2T Jakarta Timur, Arifin mengatakan, tahapan pembebasan lahan memang masih panjang. Namun menurutnya terlalu dini jika waga sudah mengatakan menolak pembebasan lahan lantaran khawatir nilai ganti rugi tak sesuai. “Kami saat ini baru melakukan tahap inventarisir. Jika inventarisir selesai maka dilanjutkan dengan pemasangan patok untuk mengetahui trase basang dan kering,” ujarnya.

Setelah proses itu, lanjut Arifin, penetapan peta bidang oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional) pun baru akan dilakukan. Jadi jika warga sudah mengeluarkan kalimat setuju dan tidak setuju, itu tidak pantas. “Kami belum masuk kontek nilai anti rugi. Kami belum membicarakan masalah harga, mekanismenya masih panjang dan kini baru tahap inventarisir,” ujar Arifin. (Ifand)

Teks : Proyek Sodetan Kali Ciliwun mulai dikerjakan di Jalan Otistas, Jakarta Timur