Wednesday, 26 September 2018

Otak Pembunuhan di Kalibata Dituntut 4 Tahun Penjara

Senin, 9 Juni 2014 — 22:30 WIB
Gatot-Holly-n

GAMBIR (Pos Kota) – Gatot Supiartono, terdakwa yang dituduh sebagai otak pembunuhan isteri sirinya, Holly Angela Hayu di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, hanya dituntut 4 tahun penjara.

Gatot divonis

Gatot Supiartono saat pembacaan vonis di PN Jakarta Pusat, Senin (9/6) – Wicaksono.

Meski tuntutan yang dibacakan Jaksa Guntoro terbilang rendah, namun mantan auditor Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) ini menyatakan keberatan. “Saya tetap tidak terima, karena saya tidak melakukan,” ucapnya pada wartawan usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (9/6).

Dalam tuntutannya, jaksa menyatakan berdasarkan bukti dan fakta persidangan, terdakwa tidak terbukti menjadi otak pembunuhan Holly. Terdakwa yang sebelumnya dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang ancamannya mati ini, ternyata tidak terbukti.

“Sesuai keterangan saksi dan fakta persidangan, terdakwa terbukti melanggar pasal 353 jo pasal 55 KUHP tentang menyuruh orang lain untuk melakukan penganiayaan hingga mengakibatkan kematian,” ucap jaksa sambil menyebutkan tak ada satu saksi yang menyatakan terdakwa memerintahkan membunuh, tapi hanya memerintahkan untuk memberi pelajaran pada korban.

PEMBUNUH BAYARAN

Di hadapan Majelis hakim diketuai badrun Zaeni, jaksa menguraikan kasus pembunuhan ini terjadi di Kalibata City unit 09 AT Tower Ebony Apartemen Kalibata City, pada 30 September 2013.

“Sebelumnya terdakwa menyuruh sopir rental, Abdul Latief untuk mencari orang memberi pelajaran korban,” ucap jaksa.

Namun si sopir menyarankan melalui magic saja yakni disantet. Tapi karena upaya itu gagal, terdakwa lalu menyuruh Latief membunuh dengan cara dicekik saja. “Latief lalu menyarankan bentuk tim ‘eksekusi’ yang terdiri dari empat orang diantaranya Pago,” katanya.

Untuk pelaksanaan pembunuhan tersebut terdakwa menyerahkan dana Rp250 juta termasuk pembelian koper untuk menyimpan mayat korban. “Dalam aksinya ini para eksekutor menyusun siasat dengan cara menyewa kamar apartemen berdekatan dengan kamar korban,” kata jaksa sambil menyebutkan pembunuhan ini dilakukan karena terdakwa kesal terhadap korban terkait soal rumah tangganya.

Kasus ini terbongkar setelah satu eksekutornya, Elriski Yudhistira tewas terjatuh dari kamar tempat kejadian. Sedang beberapa eksekutor lainnya kini tengah diadili di PN Jakarta Selatan. (wicaksono/d)