Wednesday, 19 September 2018

Terlalu Percaya Timses Keliru Nikahi Bini Orang

Minggu, 15 Juni 2014 — 11:21 WIB
nah-sub

MENIKAH lagi dalam usia tua, tentunya Setiyardi, 64, ingin ketentraman hidup. Tapi gara-gara terlalu percaya pada timses, justru keliru menikahi bini orang. Budiono, 50, suami Rini, 46, menggugat ke Pengadilan, karena bini belum diceraikan kok sudah dicemplak Setiyardi. Apesnya si kakek, mau enak banyak onak!

Usia sudah 8 windu, mestinya sudah selesai dalam urusan wanita. Tapi nasib orang memang tidak selalu paralel dengan keinginan. Ingin berumahtangga hingga kakek-nenek, eh……istri meninggal lebih cepat. Dengan alasan ada teman ngobrol, banyak lelaki yang buru-buru kawin lagi. Meski sudah diingatkan anak, sudah tua mau ngapain, banyak kakek yang nekad. Alasannya, “Saya bukan Capres, menduda terlalu lama tidak baik.”

Setiyardi warga Sigli, Banda Aceh, memang sudah cukup lama menduda. Sebetulnya dia ingin menikah lagi, tapi anak-anak yang selaku menghalangi, dengan alasan sudah tua cukup mencari pahala, jangan urusan paha. Tapi Setiyardi tidak peduli. Sesuai dengan namanya, setiyar itu artinya kan berusaha (bahasa Jawa- Red) jadi Setiyardi terus berusaha mencari istri pengganti.

Jika masih muda, mencari sendiri pastilah gampang. Karena sudah udzur, terpaksa dia minta tolong seseorang jadi timsesnya. Ketemulah orang bernama Mochtar Ngibulin, yang katanya punya banyak stok janda meski dia bukan pengurus Partai Karya Peduli Janda. Namanya timses, tentu saja perlu anggaran, dan Setiyardi pun memberinya dengan cukup. “Dijamin bos. Dia cantik, STNK, bodi kaleng dan surat-surat komplit,” kata Mochtar Ngibulin yang rupanya pernah jadi pedagang mobil.

Perempuan yang disodorkan sang timses ternyata Ny. Rini, warga Gampong Blang Kecamatan Simpang Tiga Pidie. Secara pisik memang boleh juga. Perempuan ini masih nampak seksi menggiurkan, sekel nan cemekel. Tapi karena namanya calon istri bukanlah kendaraaan, tak mungkinlah Setiyardi bisa njajal dulu. Jangankan test drive, mencet klaksonnya saja dilarang keras!

Keduanya pun mencoba berkoalisi, dan ketika menjelang deklarasi, Mochtar Ngibulin sebagai timses mundur. Jadilah Rini – Setiyardi menikah di Pangwa Kecamatan Trienggadeng. Kehidupan Setiyardi kembali ceria, karena tidak kesepian lagi. Sekarang mau makan, ada yang meladeni lagi. Mau mandi ada yang menimbakan air. Pokoknya terjamin di semua linilah.

Tapi sesungguhnya kebahagiaan Rini – Setiyardi ini menyimpan “bom waktu”. Sebab ketika wanita itu mau dinikahi si kakek, sebetulnya dia belum bercerai dengan suaminya terdahulu, Budiono. Pisah rumah memang iya, tapi Budiono belum pernah menceraikan. Dengan begitu sebetulnya Rini bisa disebut poliandri, karena telah punya dua suami.

“Bom waktu” itu akhirnya meletus juga. Setiyardi baru ngeh ketika belum lama ini ada lelaki datang ke rumah dan mengklaim dia suami Rini yang sah, lengkap dengan menunjukkan bukti surat nikah. Sedangkan Rini istrinya ketika diminta menunjukkan surat cerai, juga tidak bisa. Bingunglah Setiyardi, gara-gara terlalu percaya pada timses, malah dikadali Mochtar Ngibulin. “Nggak tahulah saya, ibarat mobil saya tinggal nyemplak kok,” kelit Setiyardi.

Kini Setiyardi digugat Budiono di Pengadilan Negeri Sigli. Ia menyesal betul, kenapa terlalu percaya pada timsesnya. Menikah di usia tua dengan tujuan untuk mencari kebahagiaan, kok malah hasilnya kegelisahan. Bagaimana nggak gelisah, jika perkawinan dibatalkan, dia kan bakal menjadi kakek jomblo lagi.

Dan tentu saja, kedinginan lagi.

(JPNN/Gunarso TS)