Tuesday, 20 November 2018

Mentang Mentang yang Punya Teve Sudah Jadi Menteri

Kamis, 26 Juni 2014 — 7:41 WIB
sentilyps

 

BANYAK program teve yang membodohi rakyat, tapi masyarakat penonton tak berdaya. KPI – Komisi Penyiaran Indonesia – yang ditugasi jadi pengawas, ompong giginya dan gampang masuk angin. Teve-teve dikuasai pemodal besar dan elite yang sebagiannya sudah terjun ke politik, menjadi pengurus partai, dalam rangka mendapatkan backing dan bunker.

Kini bahkan sudah ada yang jadi birokrat. Jadi menteri. Tak ayal, KPI makin letoy.

Kasus penghinaan atas tokoh legenda Betawi, Benyamin S menunjukkan salahsatu di antaranya. Tuntutan keluarga almarhum artis yang telah dihinakan, tak ditanggapi sepatutnya. Bahkan meski yang datang, anak korban, yang notabene anggota DPR RI.  Pengelola teve sangat percaya
diri. Jumawa!

Berdalih acara siaran langsung, sehingga susah dikontrol, pada setiap kesalahan cukup diselesaikan minta maaf dan itikad evaluasi. Selesai.

YKS bukan sekali ini mendapat teguran. Sudah lama masyarakat mengeluhkan, pada acara ini banyak bertabur kata-kata yang menghina, lelucon kasar, tindakan yang bersifat bully, meski dalam konteks bercanda. Yang dihina bukan hanya sesama artis, orang orang yang tampil, tetapi juga penonton yang diajak naik ke panggung.

Tak adanya titik temu dalam kasus Bang Ben dan penanggungjawab  YKS menunjukkan ada yang mentang-mentang. Barangkali mentang-mentang yang punya stasiun teve sudah jadi menteri, maka pengelolanya bebas mendzalimi. Tokh, mereka yakin,  tak akan kena sanksi. Tokh, dalam
lembaga yang penuh birokrasi, segala sesuatu biasa diselesaikan dengan “lobby”, “silaturahmi” dan “koordinasi”.

Kalaupun ada sanksi pada YKS, ‘kan masih bisa diakali? Dari Empat Mata menjadi Bukan Empat Mata. Bila YKS ditutup, boleh jadi akan muncul Bukan YKS. Selesai.

Sejatinya televisi menggunakan frequensi milik publik, milik rakyat. Televisi tidak boleh semena-mena bikin acara. Karena itu, KPI ditugasi mengawasi. Tapi KPI kini loyo. Apalagi yang punya teve sudah jadi mentri. Makin loyo lagi. – dimas