Tuesday, 20 November 2018

Nasib Yusri dan Bisnis Kelam Parkir Liar di Ibukota

Jumat, 27 Juni 2014 — 7:32 WIB
parkirliar

ADA banyak petunjuk kemajuan sebuah negara. Kalau Anda jalan-jalan ke Eropa atau Amerika, bahkan Singapura, negeri mini tetangga kita, Anda tidak akan pernah ketemu tukang parkir di jalan.

Tukang parkir di jalanan hanya ada di negara yang belum maju. Di negara maju parkir sudah ditangani mesin, dikelola pemerintah kota secara otomatis.

Di DKI Jakarta, pengelolaan parkir, masih mengandalkan manusia, yaitu tukang parkir, dan menjadi bisnis yang menggiurkan. Bisnis parkir adalah bisnis abu-abu, separuhnya bisnis, separuhnya lahan preman. Bukan rahasia, kawasan parkir dikuasai jagoan, dan ormas yang dipimpin
bandit.

Kisah tragis yang menimpa Yusri, 40, juru parkir di kawasan Monumen Nasional (Monas), Selasa (24/6) malam, yang dibakar oleh seseorang yang diduga oknum TNI berinisial H, mengungkapkan sisi kelam dunia parkir di Jakarta. Yang “bermain” di sana bukan hanya preman swasta, para jagoan, tapi juga oknum aparat.

Menurut saksi mata, rekan korban, antara korban dan pelaku berinisial H saling mengenal. Sebelum disiram bensin dan dilempari api, korban dan pelaku cekcok. Akibat aksi oknum itu, juru parkir yang tinggal seorang diri kritis dan dirawat di di RS Tarakan.

Kapolsek Metro Gambir, AKBP Putu Putra Sadana, mengatakan pelaku dan korban terlibat cekcok mulut lantaran uang setoran parkir yang diberikan korban dinilai kurang. “Korban memberikan uang ke pelaku Rp.50 ribu. Tak terima, ada cekcok di antara keduanya hingga
mengakibatkan korban dibakar oleh pelaku,” terangnya.

Dengan APBD yang berlimpah, DKI Jakarta bisa segera mengotomatisasi parkir di jalan – setelah sukses mengotomatisasi parkir di gedung-gedung bertingkat dan mall. Target perolehan di bidang perparkiran – yang kini ditangani Unit Pengelolaan Teknis di bawah
Dinas Perhubungan DKI Jakarta, selalu tak terpenuhi, karena bocor ke tangan oknum dan preman. Sedangkan jalanan semakin macet, karena preman mementingkan pemasukan dan bukan ketertiban di jalan. – dimas