Tuesday, 25 September 2018

Mengganggu Bini Tetangga Segera Dikirim ke Alam Raya

Sabtu, 12 Juli 2014 — 6:09 WIB
Dia-12Jul

JALAN hidup Sarmawi, 48, sungguh tragis. Bini sudah punya masih ngrusuhi (mengganggu) bini tetangga. Akibatnya, Kasman, 45, selaku suami Kasirah, 40, marah besar. Orang sedang santai di depan toko tetangga sambil menunggu bedug buka, malah dibabat clurit, tentu saja langsung wasalam.

Orang itu sering tidak bangga dengan milik sendiri. Sudah punya ayah tokoh top, masih niru tokoh Bung Karno, dari peci sampai baju-bajunya. Punya bini cantik kayak Dian Sastro, masih nginceng bini tetangga. Padahal bisa dipastikan suaminya tidak ridla. Jikalau hanya dapat teguran atau peringatan dengan kata-kata, itu masih mending. Lha kalau langsung main clurit, apa nggak berabe? Mikir……..

Sarmawi warga Desa Tlageh, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, Madura, rupanya termasuk lelaki yang tak puas dengan milik sendiri. Bininya kurang apa, setia, nerimo, tidak menutut apa-apa, kayak Partai Nasdem. Pokoknya layak jadi ibu penggerak PKK. Lha kok sekarang malah nginceng Kasirah, bini Kasman tetangga sendiri. Secara pisik jelas kalah. Jika Kasirah punya kelebihan, karena dia merupakan barang baru bagi Sarmawi, meski sesungguhnya stok lama bagi Kasman.

Tapi secara jujur harus diakui, dalam usia 40 tahun dewasa ini, penampilan Kasirah begitu menjanjikan dan menggairahkan bagi Sarmawi. Bodinya nampak sekel nan cemekel. Setiap melihat wanita itu belanja ke warung, jantung Sarmawi sedut-senut, jadi lupa akan milik sendiri di rumah. Bahkan –maaf– ketika sedang memberi nafkah batin pada istri, yang dibayangkan justru Kasirah tetangga yang menjanjikan sejuta gairah. Ibarat voltase PLN, tadinya hanya 110, mendadak jadi 240.

Bila situasinya kondusif, Sarmawi suka menggoda Kasirah. Ketika perempuan itu meladeni, wihhhh….gembiranya bukan main. Ketka bini tetangga itu kemudian kirim makanan atau buah-buahan, Sarmawi menikmatinya bagaikan “woh kuldi” dari taman firdaus. Padahal dari situ pula telah dimulai jalan menuju kehancuran dan kesesatan.

Sampai tahap apa dan bagaimana hubungan Kasirah – Sarmawi, hanya mereka berdua yang tahu. Tapi yang pasti, keakraban antar tetangga itu menjadikan Kasman curiga. Maka sekali waktu dia pernah mengklarifikasi pada istrinya, sejauh mana hubungannya dengan Sarmawi. Jawab Kasirah enteng saja. “Kita sama tetangga kan harus selalu baik, bukankah tetangga itu saudara kita yang paling dekat?” kata Kasirah berargumentasi.

Kasman mengakui, istrinya memang pandai bergaul. Tapi yang dikhawatirkan, saking pandainya bergaul bisa digauli orang! Dan ini yang Kasman tidak mau. Untuk mendeteksi sejauh mana hubungan mereka, ingin rasanya dia mengadakan survei. Tapi ke mana? Apa ke Puskaptis, apa ke LSN? Jika hasil survei tidak akurat, bagaimana? Biayanya dari mana pula?

Akhirnya Kasman menggelar survei swadaya, dengan cara dan dana seadanya. Dan ternyata, dia pernah melihat sendiri, Kasirah – Sarmawi jalan bareng sambil gablok-gablokan (pukulan canda). Wah, wah, kalau model begini ini jelas margin eror-nya hanya 0,50 %. Langsung saja dia ambil clurit. Di kala istri sedang sibuk masak di dapur, Kasman malah mencari-cari di mana Sarmawi.
Dicari di rumah tak ditemukan. Tak lama kemudian dia melihat lelaki pengganggu istrinya tersebut sedang kongkow-kongkow di depan toko sambil menunggu sore. Kasman pun masuk, pura-puranya mau belanja. Tapi begitu melihat Sarmawi meleng, langsung clurit bicara, bet bet bet…..Kontan Sarmawi meregang nyawa di situ juga. Ketika ditangkap polisi, jawabnya enteng saja, “Aku curiga dia mengganggu istri saya, dan inilah gaya penyelesaianku.”

Jalan bareng beda dengan tidur bareng lho Man, Kasman. (BJ/Gunarso TS)

  • Idhu Geni

    hmmmmm….ya memang begitulah adat di Madura…mo apalagi…