Tuesday, 20 November 2018

Ernie Djohan di Sisa Hidup Ingin Tetap Menghibur

Minggu, 3 Agustus 2014 — 12:48 WIB
erni-sub

TAHUN 1960-an merupakan awal masa keemasan yang panjang dari Ernie Djohan. Seorang penyanyi pop pujaan Presiden Soekarno. Kala itu Ernie Djohan sering diundang menyanyi untuk menghibur para diplomat asing di kediaman RE. Martadinata di Jalan Diponegoro (sekarang jadi Wisma Elang).

Ernie Djohan awalnya masuk bilik rekaman bersama band Madenas, yang diproduksi oleh Dimita Records. Dan nama Ernie Djohan saat itu menjadi jaminan dari kesuksesan album pop. Saat itu, lagu Teluk Bayur, Kau Selalu di Hatiku, Senja di Batas Kota dan masih banyak lagi yang lainnya, yang sekarang masih familiar di telinga kita, adalah yang membuat nama Ernie Djohan terkenal di seantero Nusantara hingga mancanegara.

Bahkan, band legendaris yang saat itu sangat berjaya, yaitu Koes Plus, sempat membuat beberapa lagu khusus untuk dinyanyikan Ernie Djohan, seperti lagu Angin, Lonceng, Taxy, Cemburu dan lain-lain. Termasuk lagu Pesan Indah yang diciptakan Murry. Selain itu, Ernie Djohan menjadi satu-satunya penyanyi yang menyanyikan lagu Koes Plus sekaligus diiringi oleh Koes Plus dalam rekaman.

“Saya ingin rekam ulang lagu-lagu ciptaan Koes Plus. Dan Insya Allah bisa kolaborasi dengan Koes Plus Junior,” ujar Ernie Djohan.

Lalu, di mana sekarang Ernie Djohan? “Masih ada. Saya masih menyanyi,” jawab Ernie Djohan saat ditemui di resto Qiu Liner di Jl. Hang Lekiu, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Kalau di TVRI, saya memang sudah jarang muncul, tapi Singapura, Malaysia dan Brunei masih mengundang saya menyanyi,” tambah wanita yang masih tetap awet muda dan cantik ini.

Ernie mengakui, cucu-cucunya kerap melarangnya menyanyi lagi, namun dia tak bisa meninggalkan dunia nyanyi yang sudah puluhan tahun digelutinya itu.

“Ini memang bukan era saya lagi. Tapi di sisa hidup ini saya ingin tetap menghibur. Dan penggemar saya pun masih rindu,” ujar Ernie yang sudah delapan kali menjalani operasi dari sakit yang dideritanya.

Ernie Djohan memang masih malang melintang di dunia musik. Namun, karena jarang muncul di layar televisi, berita-berita pun muncul simpang siur.

Tiga kali saya diberitakan sudah meninggal. Bahkan ada tabloid besar yang memberitakannya. Akibatnya, saya pernah bertemu dengan penggemar di sebuah pusat perbelanjaan, dia kaget dan ketakutan karena mengira bertemu dengan hantu. Lalu saya jelasin kalau saya masih hidup,” tutur Ernie. “Tapi tahun 2007 saya hampir mati beneran. Waktu itu pulang mengisi acara kampanye Usman Sapta di Malawi, Kalimantan Selatan, mobil yang saya tumpangi terbalik. Untungnya saya selamat, hanya luka kecil,” tambahnya.

Ernie Djohan merupakan penyanyi cilik pertama di Indonesia. Dan dia juga menguasai banyak bahasa asing.

“Nah, saya pernah diboikot sama RRI, karena ketika menyanyikan lagu Burung Glatik, suara dan nada saya dinilai bukan nada orang Indonesia,” kenangnya.

Ernie Djohan lahir 6 April 1951. Seorang penyanyi legendaris keturunan Minangkabau. Dia banyak menghabiskan waktu di luar negeri, karena dia anak dari keluarga diplomat M. Djohan Bakhaharudin yang pernah bermukim di Den Haag, Belanda dan Singapura.

Pada usia 11 tahun, 1962, Ernie sudah bernyanyi untuk Radio Talentime di Singapura. Pada tahun itu juga Ernie Djohan menjadi juara pertama All Singapore’s School Talentime. Rekaman pertama di Singapura pada tahun 1962 dilakukan di Phillips Recording Company.

Banyak lagu hits yang dinyanyikannya, yang hingga sekarang masih sangat familiar, diantaranya Teluk Bayur, Kau Selalu Di hatiku, Senja di batas kota, Mutiara Yang Hilang, Kenangan Manis Pasti Berlalu, Semau Gue, Berikan Daku Jawaban, Usah Kau Goda, Senja di Bina Ria, Kunang-Kunang, Mengenang Nasib, Gambang Semarang dan lain-lain.

Ernie Djohan juga pernah berakting di film Belaian Kasih (1966), Honey, Money And Djakarta Air (1970), SI Mamad (1974), Atheis (1974), Tiga Sekawan (1975), Sebelum Usia 17 (1975), Ateng Kaya Mendadak (1975) dan Ateng Sok Tahu (1976).

(anggara/sir)

Teks Gbr: Ernie Djohan (baju merah) bersama artis lainnya.