Friday, 23 August 2019

Gelombang Tinggi Nelayan Takut Melaut

Selasa, 5 Agustus 2014 — 17:09 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

KEPULAUAN SERIBU (Pos Kota) –Gelombang laut setinggi  2 hingga 3 meter yang terjadi sejak lebaran 2 hari lalu membuat nalayan dan wisatawan yang ada di Kepulauan Seribu enggan melaut dan datang. Mereka rata-rata mengaku takut nanti kapalnya akan dihantam ombak sehingga mereka tetap memilih tidak melaut karena kondisi alam kurang bersahabat.

Syaiful,35 nelayan yang tinggal di RT 002/02 Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara mengakui sejak tujuh hari terakhir ini tidak melaut. Bukan hanya itu sejak adanya gelombang tinggi wisatawan yang datang ke Kepulauan Seribu juga menjadi sepi karena mereka takut.

“Tingginya gelombang sejak satu pekan terakhir membuat aktivitas nelayan maupun wisatawan yang ada di Kepulauan Seribu berhanti total.  Warga yang sebagian besar nelayan itu hanya tetap memilih diam diri di rumahnya. Bahkan selama itu pula wilayah kami juga sepi wisatawan yang datang,’katanya.

Diakui oleh Syaiful, memang musim pancaroba ini tidak bisa diprediksikan kapan akan berhenti, kemungkinan selama angin timur puluhan nelayan yang ada diperairan Kepulauan Seribu Utara kesulitan untuk menafkahi anak dan istri. Bahkan kondisi seperti sekarang ini diperkirakan bisa dua hingga 3 bulan.  Maka dari itu para nelayan berharap kepada Pemerintah untuk memberikan bantuan selama para nelayan tidak melakukan aktivitas.

Keluhan yang sama juga disampaikan, Mansyah,37, kecepatan angin timur dan tinggi gelombang membuat nelayan enggan melaut. Ini disebabkan karena gelombang tinggi, tinggi mencapai 2 hingga 3 meter. Akibatnya nelayan yang sebagian besar kapalnya terbuat dari kayu itu tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya pasrah dengan kenyataan pahit ini.

“Meski cuaca buruk, kadang-kadang kami kucing-kucingan tetap berusaha melaut. Jika tidak anak dan istri kami mau diberi makan apa. Biasanya kami melaut pagi-pagi menjelang siang pulang. Tapi kami hanya bisa memancing walau hasilnya tak sebanding bila pergi melaut,” pungkasnya.

Dampak buruknya cuaca yang terjadi di perairan Kabupaten Kepulauan Seribu, juga membuat aktivitas pelayaran. Kapal Motor (KM) Reguler yang mengangkut penumpang dari Muara Angke menuju Pulau Seribu memilih transit terlebih dahulu di sejumlah pulau pemukiman yang menjadi jalur perlintasan.

Ini diakui oleh, Nardi,38 salah seorang Nahkoda KM Sinar Alam, jurusan Muara Angke Kepulauan Seribu Utara. Menurutnya, gelombang tinggi jadwal keberangkatan kapal ojek tradisional harus molor dengan pertimbangan faktor keselamatan penumpang. “Para nahkoda tidak mau ambil resiko, akibatnya jadwal keberangkatan kapal molor molor demi keselamatan ratusan penumpang,” ujarnya. (wandi)

Foto Ilustrasi

  • Mangap

    Kapal besarnya kurang. Kapal dishub banyak yang rusak, harus di tambah jumlahnya yang besar. sehingga aman dari ombak besar