Monday, 19 November 2018

Sebagai Bahasa Melayu

62 Ribu Kosa Kata Bahasa Indonesia Diklaim Brunei

Jumat, 8 Agustus 2014 — 13:13 WIB
Kamus-Besar-Bahasa-Indonesia

JAKARTA (Pos Kota)- Sebanyak 62 ribu kosa kata bahasa Indonesia diklaim sebagai bahasa Melayu oleh Brunei Darussalam. Klaim tersebut menyusul upaya-upaya Brunei dan Malaysia untuk mendorong bahasa Melayu sebagai bahasa internasional.

“Brunei sudah menerbitkan kamus bahasa Melayu Nusantara sejak 2003, dimana 62 ribu kosa kata diambil utuh dari Kamus Besar Bahasa Indonesia dan hanya 400 kosa kata saja yang benar-benar merupakan bahasa Melayu,” papar Prof Mahsun, Kepala Badan Bahasa Kemendikbud pada kuliah umum mahasiswa Indonesia Defense University bertema pengembangan strategi dan diplomasi kebahasaan dalam pendidikan pertahanan, Jumat (8/8).

Hadir Kepala Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan Prof dr Rusdi, Sekretaris Badan Muhajir, serta Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur dan Perlindungan bahasa Sugiono.

Menurut Mahsun, Malaysia dan Brunei memang memiliki ambisi besar agar bahasa Melayu menjadi bahasa internasional. Meski jika dilihat dari jumlah penutur, tentu lebih besar jumlah penutur bahasa Indonesia.

Ambisi mendorong bahasa Melayu sebagai bahasa internasional tersebut tak lepas dari potensi bahasa itu sendiri sebagai bagian dari diplomasi intergasi bangsa. Jika nantinya bahasa Melayu menjadi bahasa dunia, maka akan sangat mudah bagi Malaysia untuk mengakui kelompok atau suku bangsa yang berbahasa Melayu sebagai bagian dari Malaysia.

Kamus bahasa Melayu Nusantara itu sendiri saat ini dijual bebas bahkan diberikan cuma-cuma ke sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Dengan cara demikian maka akan sangat mudah bagi Malaysia dan Brunei untuk menanamkan keyakinan bahwa bahasa Indonesia adalah bagian dari bahasa Melayu.

“Padahal basic atau dasar pembentukan kosa kata antar bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang berlaku di Malaysia sangat jauh berbeda,” lanjut Mahsun.

Pemerintah Indonesia dikatakan Mahsun sebenarnya sudah melayangkan protes terhadap keberadaan kamus tersebut. Sayangnya, sebagian dari tim penyusun kamus tersebut adalah orang-orang Indonesia yang merupakan tim penyusun kamus bahasa Indonesia.
“Jadi kita lemahnya disini. Tetapi kita sudah meminta agar Brunei mencantumkan sumber kosa kata tersebut pada kamus terbitan berikutnya. Dan kita akan segera memonitornya,” tukas Mahsun.

Menurut Mahsun, bahasa Indonesia lebih memiliki peluang menjadi bahasa internasional mengingat jumlah penuturnya sangat banyak sekitar 350 juta orang. Penyebaran penuturnya juga jauh lebih merata di sejumlah negara.

Karena itu untuk mengimbangi ambisi Malaysia dan Brunei tersebut, pemerintah Indonesia harus melakukan berbagai upaya. Diantaranya membangun 49 pusat kajian bahasa Indonesia dinegara-negara asing untuk menambah sebaran jumlah penuturnya, dan mendorong agar bahasa Indonesia boleh digunakan dalam forum internasional.

“Kita juga akan kirimkan guru-guru bahasa Indonesia untuk menjadi pengajar di semua kantor kedutaan Indonesia di negara asing,” pungkas Mahsun.

(inung/sir)