Sunday, 18 November 2018

Staf Dinas Perhubungan Kepergok Hubungan Intim

Selasa, 12 Agustus 2014 — 6:30 WIB
Dia-12Agus

PEGAWAI Dinas Perhubungan menilang kendaraan umum, itu biasa. Tapi di Tasikmalaya (Jabar), staf Dinas Perhubungan “ditilang” warga karena kepergok hubungan intim dengan istri orang. Warga Desa Gandrung Kecamatan Singaparna itupun menunut Marman, 40, tak hanya dimutasi, tapi dipecat saja sekalian.

Ketika budaya “salam tempel” di jalan raya masih mendarah daging di kalangan oknum Polantas dan Dinas Perhubungan, selama itu pula mereka akan makmur oleh uang tak halal. Maka tak mengherankan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo marah-marah karena menangkap basah petugas jembatan timbang Subah (Batang) pungli sopir truk. Gara-gara ulah mereka, jalan provinsi pun banyak yang rusak. Jika perbaikan belum selesai menjelang Lebaran, kemacetan pun akan terjadi di mana-mana.

Di Tasikmalaya, Marman sebagai petugas Dinas Perhubungan kantongnya cukup gemuk. Karena itulah dia sangat memungkinkan untuk berinvestasi. Tapi layaknya lelaki muda, investasi itu bukan dalam bidang usaha, melainkan…….selangkangan. Maksudnya, meski di rumah sudah punya keluarga, dia memaksakan diri untuk punya WIL. Katanya untuk penyegaran, agar tidak terjebak pada rutinitas.

Celakanya, gendakan Mar  bernama Ati, 36, ini bukanlah wanita bebas merdeka, melainkan bini orang, warga  Singaparna. Tapi sesuai dengan namanya, penampilan wanita itu memang sangat menjanjikan. Wajah cantik, putih bersih, bodi seksi, betis mbunting padi, dan tumit merah jambu. Tak mengherankan, asal dekat perempuan itu Mar  bawaannya nepsong melulu.

Ati  yang suaminya hanya petani tanpa dasi, dapat saweran barang Rp 100.000,- sampai Rp 200.000,- dari Man, girangnya bukan main. Dan karena motto “witing tresna saka atusan lima”, sudah sejak 1,5 tahun lalu Ati diam-diam menjadi gendakan oknum Dinas Perhubungan.

Asal baru pengin dan situasinya sangat kondusif, Mar yang banyak duit itu diam-diam pergi ke rumah Ati. Nah, di kala suami sedang ke sawah, gantian di rumah Mar  yang “nyangkul” bininya. Sepulang menggarap saswah yang tak seberapa luas tersebut, Mar  pasti ninggali uang kerokhiman barang Rp 100.000,- atau Rp 200.000,- Ati  tentu saja sangat senang. Dia sendiri juga sudah senang, kok dapat tambahan BLT (Bantuan Langsung Tembak) pula, tentu saja bertambah bahagia nan sejahtera.

Aksi mesum Mar – Ati sepertinya dikemas dengan rapi, dengan menejemen kontrol yang handal. Buktinya, berlangsung 1,5 tahun lamanya tak juga terendus oleh warga maupun Bah suami Ati. Jika warga tak tahu masih bisa dimaklumi. Tapi suaminya itu lho, selama ini hanya dapat barang restan kok tidak ngeh juga. Tapi itulah keuntungan Mar, karena Ati gendakannya selama ini tak pasang spedometer, sehingga dikendarai berapa kalipun takkan ketahuan.

Tapi yang namanya barang batil, lama-lama pasti terbongkar juga. Dan itulah yang terjadi minggu lalu. Saat Ati-Mar berpacu dalam birahi, kepergok warga. Gegerlah wara g. Anehnya, kasus ini tak diserahkan ke polisi, melainkan diadukan langsung ke Dinas Perhubungan Tasikmalaya tempat Mar berdinas. Putusannya pun sangat ringan, penjahat kelamin itu hanya dimutasi, padahal maunya warga langsung dipecat tidak dengan hormat.

Dipecat tidak hormat gara-gara kehormatan wanita. (Gunarso TS)