Thursday, 20 September 2018

Garap Maksimal Potensi Wisata Bahari Melalui Festival Teluk Tomini

Kamis, 14 Agustus 2014 — 6:18 WIB
teluktomini

JAKARTA (Pos Kota) – Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengungkapkan, sektor wisata bahari akan menjadi salah satu unggulan pembangunan ekonomi Indonesia kedepan. Karena itu pihaknya bersama Pemprov Sulawesi Tengah dan Kabupaten Parigi Moutong akan menggelar  Festival Teluk Tomini 10-13 September 2014 mendatang.

“Kegiatan ini memiliki manfaat besar untuk memperkenalkan potensi wisata bawah laut Teluk Tomini kepada dunia luar, sebagai destinasi wisata yang menawarkan keunikan, keindahan dan kenyamanan yang dimiliki Indonesia,” kata  Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, saat melakukan launching Festival Teluk Tomini 2014 di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Rabu (13/8).

Menurut Cicip, posisi Teluk Tomini yang strategis menjadikan lokasi ini sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia atau Heart of Coral Triangle.  Teluk Tomini merupakan salah satu yang  terbesar di Indonesia dengan luas kurang lebih 6 juta hektar serta potensi sumber daya alam yang kaya nan unik.

Selain itu teluk ini  memiliki luas terumbu karang sebesar  1.031 Ha dan luas hutan Mangrove 785.10 Ha. Di daerah itu juga terdapat Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dengan spesies endemik seperti Tuna Sirip Kuning, Anoa, Babi Rusa, Maleo dan spesies lain yang belum teridentifikasi.

Ekosistem  Teluk  Tomini merupakan satu di antara 26 kawasan andalan laut nasional.  Tak ayal, kawasan ini memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang berlimpah bagi pengembangan wisata bahari dan lumbung pangan nasional.
Dalam launching yang dihadiri juga oleh Gubernur Sulawesi Tengah Longky Djanggola, serta Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu,  Sharif Cicip Sutardjo yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN) menyampaikan bahwa, Festival Teluk Tomini 2014 akan menciptakan peluang investasi yang kondusif di berbagai sektor khususnya kelautan dan perikanan. Pasalnya,Teluk Tomini memiliki potensi pengembangan sektor kemaritiman yang sangat besar.

“Melalui Festival Teluk Tomini, diharapkan membuka kran investasi khususnya di sektor kelautan dan perikanan yang bernafaskan konsep ekonomi biru (blue economy). Sehingga menciptakan produksi komoditas kelautan dan perikanan berkualitas serta berkelanjutan,” tambah Sharif.
Pemerintah dan masyarakat setempat perlu menjaga kelestarian dan keindahan lingkungan yang menjadi daya tarik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,

Festival Teluk Tomini sendiri merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan dari Peringatan Hari Nusantara 2014. Sementara puncak acara dari Perhelatan Hari Nusantara sendiri, akan dilaksanakan di Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan. Berbagai kegiatan dilaksanakan sebagai Rangkaian Peringatan Hari Nusantara yang berkaitan dengan bidang kelautan.
Kegiatan-kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan wawasan dan budaya bahari, mengembangkan keterpaduan pembangunan kelautan/bahari, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, melakukan bhakti sosial dan layanan masyarakat serta meningkatkan dan menguatkan peranan SDM kelautan Indonesia.

Selain mendorong terciptanya lapangan usaha baru dan sumber pendapatan alternatif masyarakat, Festival Teluk Tomini adalah wujud keseriusan Pemerintah dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan mengembangkan ekonomi kerakyatan serta mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi dan produktifitas usaha masyarakat.

Dengan dijadikannya Teluk Tomini sebagai destinasi wisata bahari  Indonesia memiliki berbagai potensi keanekaragaman sumberdaya hayati dan non hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai pilar ekonomi nasional. Tentunya, jika pembangunan ekonomi kelautan dan lingkungan  dilakukan secara lestari dan berkelanjutan.  Maka dari itu, Blue Economy perlu menjadi bagian yang integral dalam pembangunan ekonomi tersebut.

Sharif menjelaskan, konsep Blue Economy mencontoh cara kerja alam (ekosistem) secara efisien dan tidak mengurangi tapi justru memperkaya alam. “Pasalnya limbah dari yang satu menjadi makanan/sumber energi bagi yang lain, sehingga sistem kehidupan dalam ekosistem menjadi seimbang,” jelasnya. (faisal/d)

 

Foto ilustrasi