Monday, 19 November 2018

Mengikis Tradisi Kekerasan Pelajar

Jumat, 15 Agustus 2014 — 6:10 WIB

KEKERASAN di kalangan pelajar seperti sudah menjadi tradisi. Setiap awal dimulainya kegiatan belajar usai libur panjang, kerap terjadi tawuran. Pelajar menjadi predator bagi pelajar lainnya. Korban berjatuhan, baik mengalami luka maupun meninggal dunia.

Kejadian terbaru, dalam sehari dua nyawa pelajar melayang akibat diserang siswa lain di Depok dan Jakarta Timur, Rabu (13/8).

Oka Wira Satya remaja 15 tahun pelajar kelas 1 SMK Adi Luhur Condet, Jakarta Timur, meninggal akibat dibacok siswa lainnya ketika pulang sekolah. Korban lainnya, Wandi Setiawan, siswa SMK Baskara Depok, tewas ditikam saat melindungi temannya dari serangan. Ironisnya, yang menjadi korban selalu anak baik-baik yang dikenal tidak pernah terlibat bentrokan. Mereka hanya jadi sasaran dendam.

Tindakan brutal segelintir pelajar membuat orangtua takut. Bila ada pertanyaan kepada wali murid, apa yang paling dikhawatirkan saat anaknya keluar rumah menuju sekolah. Mungkin jawabannya adalah tawuran. Semua orangtua pasti tak ingin anaknya menjadi korban keganasan siswa lainnya.

Data di Polda Metro Jaya, angka tawuran pelajar di wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang masih tinggi. Pada 2010 terjadi 128 kasus tawuran, 2011 meningkat tajam menjadi 339 kasus dengan korban tewas 82 orang, 2012 turun menjadi 139 kasus dan korban tewas 19 orang.

Beberapa penyebab terjadinya bentrokan antara lain faktor internal, yakni kurangnya pendidikan moral dan pembentukan karakter dari orangtua. Penyebab lainnya, faktor eksternal seperti saling ejek (kekerasan verbal), dendam warisan senior, ribut saat ada pertandingan antar-sekolah dan lainnya. Pemicunya sebetulnya sepele, tapi tidak bisa dianggap sepele. Usia anak hingga remaja adalah masa labil, masa mencari jatidiri, pengakuan dan perhatian sehingga harus dibimbing.

Bentuk kenakalan remaja yang menjurus pada tindakan kriminal tidak bisa dibiarkan. Aparat kepolisian dan pihak sekolah semestinya sudah bisa memprediksi, belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya yang selalu saja berulang. Artinya, aksi ini bisa dicegah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan kepolisian dan sekolah untuk mengikis tradisi kekerasan di kalangan pelajar.

Langkah yang bisa dilakukan antara lain, masukkan mata pelajaran ‘anti tawuran’ dalam kurikulum belajar, libatkan polisi sebagai pengajar. Buat kelompok kecil perwakilan pelajar menjadi ‘petugas’ yang mengawasi siswa lainnya. Di beberapa sekolah seperti di Bogor, Depok dan daerah lainnya dibentuk Satgas Anti Tawuran dan Polisi Pelajar. Ini positif dan perlu dicontoh.

Pihak sekolah juga harus tegas membuat aturan. Tidak ada salahnya satpam sekolah atau guru piket merazia tas pelajar, memastikan siswa tidak membawa benda berbahaya. Bagi yang terlibat keributan, sekolah harus tegas, beri surat pindah supaya siswa bandel itu mencari sekolah lain.

Hukum juga harus ditegakkan, pelajar yang bertindak kriminal tetap diproses namun hak untuk memperoleh pendidikan tetap diberikan. Remaja adalah aset bangsa yang harus diselamatkan dari kehancuran.**