Monday, 12 November 2018

Truk Sirtu Boleh Melintas Pagi dan Sore

Jalan Parung Panjang Rusak Berat

Selasa, 26 Agustus 2014 — 22:54 WIB
iwan

BOGOR (Pos Kota) – Kerusakan Jl. Raya Parung Panjang, Kecamatan Parung Panjang semakin parah. Bukan hanya menganggu aktifitas, tapi juga mengancam kesehatan warga terutama terjangkitnya penyakit Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Maklum, saban hari jalan yang menghubungkan Parung Panjang-Rumpin  ini dilindasi  truk berumutan  pasir tanah dan batu (sirtu).

Sudah berulangkali warga memprotes kerusakan jalan dengan demo dan memblokir truk bermuatan sirtu.  “Kami bosan setiap hari menghirup debu dari truk sirtu.  Sejumlah  warga malah sudah terserang ISPA. Kalau musim hujan, sepanjang jalan ini mirip kubangan kerbau,” kata  Purnama, warga Desa Parung Panjang, Selasa (26/8).

Diakuinya, aksi protes warga itu semula tak digubris aparatur kecamatan dan pengusaha tambang, tapi setelah warga memblokir dan menurunkan muatan truk sirtu, baru ada tindakan. “Akhirnya Muspika Parung Panjang mengundang pengusaha tambang,  transporter (pengusaha armada tambang) dan perwakilan warga,” katanya.

Dalam pertemuan itu, disepakati jalan ini hanya boleh dilindasi armada truk mulai pukul06:00-09:00 dan pukul 16:00-19:00. Kemudian, pengusaha   bertangung jawab merawat jalan dengan melakukan perbaikan atau penyiraman. Terakhir, rambu-rambu lalu lintas harus dipasang sehingga armada tambang tak parkir sembarangan.

Camat Parung Panjang Ade Yana Mulyana mengatakan, kesepakatan itu mulai berlaku hari ini (Selasa,26/9). “Jika dilanggar polisi akan mengandangkan armada tambang tersebut. Sedangkan perawatan jalan diawsi warga sekitar,” katanya.

Diakuinya, kerusakan jalan ini menggangu aktifitas warganya. “Bahkan  pasien yang datang ke Puskesmas kebanyakan terjangkit ISPA,” katanya. Sedangkan perbaikann jalan sudah dilakukan pemkab dan Pemrov Jabar, namun muatan yang lebih dari armada tambang itu membuat umur jalan  tak panjang sehingga rusak kembali.

Sementara Ariel, pengusaha, mengaku  pihaknya  sudah memberikan bantuan kepada warga  yang sengaja menghentikan truk di tengah jalan lalu minta uang.”Rata-rata setiap truk yang melintas mengeluarkan duit Rp25.000 sekali jalan. Katanya, uang itu buat perawatan jalan atau ganti rugi akibat lalu- lalangnya truk sirtu,” katanya.

Soal kesepakatan itu, dia mengaku akan mematuhinya. “Kami maunya usaha  berjalan lancar. Bukan hanya kami yang mengeruk keuntungan,  ribuan warga Parung Panjang juga menggantungkan hidup dari areal tambang ini,” ujarnya. (iwan/yo)

Foto: Istimewa