Wednesday, 14 November 2018

Lelang Mobil Anggota Dewan

Sabtu, 30 Agustus 2014 — 6:11 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“ASSALAMU alaykum,” kata Dul Karung memberi salam dengan lantang dan fasih seraya melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Wassalamu alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh. Cari siapa, Bung?” balas seseorang tak kalah fasih disertai selipan kelakar di ujungnya.

“Cari orang yang mau mengutangi teh manis dan singkong gorenglah,” jawab orang lain yang ada di dalam warung, sebelum Dul Karung buka mulut. Dan ledakan tawa kecil pun terdengar di warung kopi kakilima itu.

Bagai tidak mendengar kelakar itu, Dul Karung pun masuk seperti biasa. Mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul, dan melemparkan bokongnya ke salah satu bagian yang kosong dari bangku panjang satu-satunya yang ada di sana.

“Tampaknya kau gembira sekali Dul,” sapa Mas Wargo seraya menyodorkan teh manis sebelum Dul Karung memesannya.

“Harus, dong. Kan kita segera memiliki presiden baru, pemerintah dan anggota parlemen, baik tingkat DKI maupun tingkat pusat, yang baru juga,” jawab Dul Karung dengan suara penuh semangat.

“Apa kau punya harapan akan mendapat posisi dan formasi di tempat baru itu?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Setidak-tidaknya aku punya harapan barulah. Masa iya dengan adanya anggota legislatif dan eksekutif baru, nasib kita masih seperti dulu juga,” jawab Dul Karung sambil menyeruput teh manis panas yang baru diterimanya dari Mas Wargo.

“Sudah tujuh kali punya presiden, bahkan sudah delapan kali bila Assaat yang pernah jadi “akting presiden” di masa RIS dihitung, rasanya hidup kita masih begini-begini juga. Minum-minum di warung kopi kakilima pun kau masih sering berutang,” tanggap orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Tunggu dulu! Assaat itu siapa, kok harus dihitung sebagai presiden juga?” tanya seseorang entah siapa dan yang mana.

“Wah, kau tidak pernah membaca sejarah negeri ini dengan lengkap ya?” kata Dul Karung dengan gaya sedikit pongah. “Ketahuilah di negeri ini pernah ada yang namanya RIS alias Republik Indonesia Serikat. Negara Kesatuan ini dikeping-keping oleh kelihaian kolonialis Belanda menjadi negara serikat. Karena Bung Karno yang dijadikan Presiden RIS, maka RI hanya punya “acting,” atau pejabat, presiden. Beliau itu adalah Assaat,” sambung Dul Karung dengan amat yakin dan mencoba meyakinkan.

“Sudahlah. Kita jangan ngomong soal masa lampau. Kuno. Aku sekarang ingin mendengar tanggapan Dul Karung tentang mobil-mobil dinas anggota DPRD DKI Jakarta. Kata Sekretaris Dewan tersebut banyak yang belum dikembalikan padahal anggota Dewan yang baru sudah dilantik,” potong orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Nah, bagaimana menurutmu, Dul? Kudengar ada 63 mobil dinas tersebut yang belum dikembalikan,” timpal Mas Wargo yang biasanya tidak suka ikut campur ngobrol.

“Ya, jangan buru-buru berprasangka buruklah. Kan selama ini anggota Dewan itu, baik di tingkat pusat maupun daerah, disebut yang terhormat. Masa iya sih, begitu sudah tidak menjadi anggota Dewan beliau-beliau langsung jadi tidak terhormat. Mungkin beliau-beliau itu sibuk,” jawab Dul Karung santai sambil mengunyah singkong goreng.

“Tapi berdasarkan pengalaman dari periode yang lalu, kata Sekretaris Dewan yang dikubaca di koran, banyak mobil dinas yang bukan dipulangkan, malah dibawa pulang,” sergah seseorang entah siapa.

“Itu kan 5 tahun yang lalu. Sekarang zaman dan orangnya kan berbeda. Lagi pula ada anggota Dewan lama yang terpilih lagi. Beliau ini kan dibolehkan memakai terus mobil dinasnya. Dan itu lebih baik daripada harus dibelikan mobil baru,” kata Dul Karung masih santai. Tidak seperti biasanya, kritis, pedas, dan kadang-kadang benar-benar tak sedap didengar.

“Satu lagi yang ingin kuketahui tanggapanmu Dul,” kata orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Apa itu?” tanya Dul Karung masih santai.

“Ini masih kata Sekretaris Dewan. Mobil-mobil bekas anggota Dewan itu akan segera dilelang. Kalau, ini hanya kalau lho, kamu punya uang, kamu mau membelinya nggak?” kata orang itu lagi.

“Tidak!” jawab Dul Karung tegas.

“Bagus,” kata orang yang duduk tepat di sebelah Dul Karung. “Kalau punya uang si Dul harus mengutamakan bayar utang pada Mas Wargo dulu. Enak aja utang belum lunas, mau beli mobil,” sambung orang itu mengundang riuh tawa orang-orang yang mendengarnya.

“Alasan pertama dan utamaku bukan itu,” kata Dul Karung. “Aku takut mobil itu pernah sesat di jalan atau di jalan sesat,” sambung Dul Karung sambil meninggalkan warung, sehingga dia tidak mendengar teriakan “Sekarang kau yang berprasangka buruk, Dul!” (syahsr@gmail.com)