Thursday, 20 September 2018

Kiprah Polwan Kita

Senin, 1 September 2014 — 22:35 WIB

KORPS Polisi Wanita (Polwan) merayakan HUT ke-66, 1 September 2014. Kiprah polwan di tengah masyarakat sudah  diakui. Polwan mampu melaksanakan tugas sama seperti yang diemban polisi lelaki (Polki) di berbagai bidang. Artinya, polwan bisa bersaing dengan polki. Tapi ada yang mengusik di benak kita, yaitu kentalnya nuansa gender sejak mulai dari proses rekrutmen.

Dari jumlah total anggota Polri yaitu sekitar 400 ribu personel, polwan hanya 3,6 persen atau sekitar 13.000 personel, 9.800 di antaranya berpangkat Brigadir. Polri belum memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan. Padahal, polwan sangat dibutuhkan seiring kian beragamnya jenis kriminalitas semisal kejahatan seksual, kejahatan yang melibatkan anak dan perempuan serta jenis kejahatan lainnya. Polwan juga punya keunggulan karena luwes tapi tegas. Di jalan raya misalnya, pengendara segan ‘main mata’ alias menyuap wanita polantas.

Dalam hal kemampuan, polwan punya potensi sama dengan polki. Di bidang operasional misalnya, polwan bisa menunjukkan kemampuan setara dengan polki. Mulai dari unit lalu lintas, reserse, pemberantasan terorisme, bahkan penjinak bom, polwan terlibat di dalamnya. Bahkan polwan pernah mengharumkan nama Indonesia, menjadi wanita pertama memimpin Kontingan Garuda 1324 dalam misi perdamaian di Bosnia, yaitu Kombes Pol (purn) Pengasihan Daut.

Sayangnya, untuk jabatan strategis memegang komando kewilayahan jumlah polwan bisa dihitung dengan jari. Jabatan tertinggi yang diemban polwan baru sebatas kapolres. Baru satu polwan yang diberi kesempatan menduduki kursi kapolda, yakni Brigjen Pol (purn) Rumiah Kartoredjo, Kapolda Banten tahun 2008-2010. Rumiah adalah wanita pertama sekaligus terakhir menjabat kapolda, dan sampai kini belum ada polwan yang diberi kesempatan sama.

Bukan hanya kesempatan karir yang mencolok antara polwan dan polki, dalam hal kepangkatan juga terjadi.

Polri memiliki sedikitnya 250 perwira tinggi berpangkat Brigjen, Irjen, Komjen dan satu Jenderal bintang empat (Kapolri). Dari jumlah itu hanya tiga polwan, yakni Brigjen Soepartiwi (Akpol), Brigjen Ida Utari (BNN), dan Brigjen Basaria Panjaitan (Widya Iswara Sespimpol). Tiga polwan ini, belum ada satu pun yang dipercaya memegang tongkat komando kapolda.

Dari fakta tersebut kita bisa melihat wajah dan kiprah polwan kita. Pimpinan Polri boleh saja mengatakan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada polwan untuk berkarir. Tapi kalangan DPR dan aktivis perempuan menilai masih ada diskriminasi. Polri hanya membanggakan ‘polwan cantik’ yang kerap muncul di televisi. Hampir semua polda mengedepankan ‘polwan cantik’, bukan polwan yang berprestasi. Cantik adalah nilai plus, tampil menawan memang penting. Tapi yang penting ditonjolkan bukan cantik fisik, melainkan cantik secara intelektual dan manajerial.

Saatnya pimpinan Polri mengikis kesan diskriminasi. Beri kesempatan mereka mengikuti pendidikan berjenjang di kepolisian. Beri kepercayaan polwan beprestasi untuk memegang komando. Rasio antara jumlah polki dan polwan yang sangat jauh, segera diatasi. Buka seluas-luasnya kesempatan bagi putri-putri Indonesia untuk menjadi polwan. Tahun ini Polri merekrut 20.000 personel Brigadir Polisi, 7.000 di antaranya polwan. Kita berharap kuota ini terus ditingkatkan setiap tahun. Polwan harus bisa berkiprah sama seperti polki, dan membanggakan institusi Polri dan membanggakan Indonesia. Selamat HUT Polwan.**