Sunday, 18 November 2018

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Industri Alas Kaki Terganggu

Jumat, 26 September 2014 — 12:56 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota) – Akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika, kinerja industri kecil dan menengah (IKM) alas kaki terganggu.

Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko menjelaskan, kondisi itu terjadi karena 60-70 persen bahan baku (kulit, karet sintetis, dan kain tekstil) berasal dari impor.

“Eksportir bahan baku tidak mau menjual dengan sistem kredit, mereka menginginkan dibayar kontan. Tetapi apakah IKM punya kas, sementara IKM (industri kecil menengah) tidak memiliki dana yang memadai sehingga kemampuan membeli bahan baku terbatas,” kata Eddy, Jumat.

Untuk industri berskala besar, lanjutnya, fluktuasi nilai tukar rupiah tidak terlalu berpengaruh terhadap produksi. Sebab, mereka lebih mudah mengakses modal ke perbankan. Seperti diketahui, nilai tukar rupiah kemarin melemah ke level Rp 12 ribu per dolar AS.

Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Alas kaki Indonesia (APAI) Taufiq Rahman, menambahkan masalah kekurangan bahan baku sudah jadi persoalan serius pengrajin sepatu dan sandal.

“Sebagian besar pengusaha alas kaki mengeluhkan kesulitan mendapatkan bahan baku di dalam negeri. Terutama kulit sapi sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya pasrah.

Menurutnya, kekurangan bahan baku bukan kali ini saja terjadi, namun sudah lama. Akibatnya, banyak pengrajin gulung tikar.

“Hingga kini sudah sekitar 6.000 perusahaan sudah mengalami kesusahan. Bahkan banyak yang gulung tikar karena tak mendapatkan bahan baku kulit. Itu banyak terjadi di daerah Bandung danSidoardjo,” ujar Taufik.

Dia berharap, pemerintah melakukan terobosan untuk menyediakan bahan baku sehingga industri yang kini kondisinya kritis bisa selamat dari penutupan usaha.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah membenarkan hal ini. Dia menyebut, kebutuhan kulit untuk industri alas kaki mencapai 5 juta lembar per tahun. Sedangkan pasokan dari dalam negeri hanya 2 juta lembar per tahun.

“Jadi 3 juta impor. Sementara impor kulit tidak mudah karena ada persoalan masalah penyakit kulit dan kuku,” jelasnya.

(tri/sir)