Thursday, 23 November 2017

Istri Pasang Tarif Komersil Anak Tiri Menjadi Sasaran

Minggu, 28 September 2014 — 6:24 WIB
nahini

JAMAN sekarang apa-apa dikomersilkan, sehingga Mbah Salmun, 65, pusing dibuatnya. Bayangkan, mau hubungan intim sama bini saja, sang istri selalu pasang tarif dari Rp 25-50.000,- sekali kencan. Kecewa dengan istri yang komersil, akhirnya anak gadis bawaan istri pun disikat habis sampai 2 kali.

Di era gombalisasi ini paham kebendaan semakin menonjol, setiap ruang publik dikomersilkan, tak ada yang gratis. Jualan di kaki lima, dipalak preman. Buka lapak kambing dan sapi sambut Idul Qurban, juga “dipajaki”. Bahkan kabarnya, main FB-an di internet nanti harus bayar sekian dolar setiap bulan. Walhasil setiap orang bergerak tak pernah bebas dari bea.

Mbah Salmun dari Cirebon ini tak pernah main internetan, tapi belakangan ini belum-belum juga dibuat pusing. Pasalnya istri di rumah sudah mulai mata duitan. Setiap dia minta layanan hubungan intim sebagaimana lazimnya, Ny. Samini, 50, selalu minta imbalan barang Rp 25.000,- hingga Rp 50.000,- Ini kan aneh dan ironis. Istri kan wilayah pribadi, bukan publik. Jangan-jangan istrinya ketularan gaya Jokowi-Ahok memimpin Jakarta, semua serba e-tiketing.

Jikalau masih aktif sebagai PNS, itu bukan masalah. Tapi setelah pensiun kok masih mau “diperes” seperti itu, duit dari mana? Padahal Samini istrinya juga orang beragama, rajin ikut pengajian bersama ibu-ibu di kampungnya. Karenanya pasti tahu bahwa melayani suami itu sebuah kewajiban. Kan ada haditsnya yang mengatakan, “Layanilah ajakan tidur suamimu meski kamu sedang di dapur.”

Itu artinya kan bahwa istri melayani suami tanpa reserve, tanpa persyaratan ini itu. Mbah Salmun pernah protes atas kebijakan istri yang tak ada dasar hukumnya itu. Tapi apa jawaban Samini? Justru gantian suami yang dikuliahi macam-macam. Dimintai uang Rp 25.000,- sampai Rp 50.000,- saja sudah protes. Ini kan persyaratan ringan sekali. Padahal lihat tuh di TV, Partai Demokrat baru pro “Pilkada langsung” asalkan 10 jenis persyaratan dipenuhi.

Tambah pusing kan? Tapi Mbah Salmun sebenarnya juga heran. Semakin tinggi usianya kok justru semakin tinggi pula nafsunya. Padahal mustinya kan lebih banyak memikirkan soal pahala demi Hari Kemudian, ketimbang paha yang juga hanya begitu-begitu saja.

Gara-gara kebijakan “pengetatan ranjang” tersebut, hampir sebulan ini Mbah Salmun terpaksa prei dari aktivitas paling signifikan. Kalau prei lantaran libur nasional, di rumah bisa mengerjakan banyak kegiatan. Tapi jika prei dalam soal begituan, ya tambah pusing. Maka seperti yang terjadi beberapa hari lalu, begitu melihat anak tirinya yang sudah berusia 17 tahun, langsung mata gelap.

Bocah ABG itu dinodai dengan paksa, dan Nining diberinya uang Rp 20.000,- Lain hari kembali diulang. Tapi di saat sedang ketanggungan, eh ada anak tetangga yang melihatnya. Terpaksa Mbah Salmun kena pajak dobel. Rp 20.000,- untuk Nining, yang Rp 10.000 untuk anak tetangga agar tutup mulut.

Namanya juga anak, justru bocah tetangga itu kemudian cerita pada Ny. Samini. Tentu saja jadi geger. Malu atas kelakuan suami, dia langsung lapor ke Polres Cirebon. Tanpa menunggu lama, kakek dari  Mundu Pesisir, Kabupaten Cirebon itu langsung ditangkap. Tapi dalam pemeriksaan dia terus terang, dia nekad menggauli anak tiri karena istri minta bayaran setiap melayani suami. “Masak istri kelakuannya kayak WTS?” kata Mbah Salmun.

Lama-lama Mbah Salmun kena PPN 10 %. (JPNN/Gunarso TS)

  • rengga irawan

    hihihi