Thursday, 22 June 2017

Suami Bekerja di Rantau, Brondong Jadi Penghibur

Sabtu, 11 Oktober 2014 — 1:58 WIB
Ucha-D11Okt

WANITA usia 42 tahun memang tergolong STNK. Karenanya, kuli bangunan Rusli, 27, mau saja diajak pacaran dengan Ny. Rahmi, meski statusnya kemudian jadi brondong. Tapi rupanya Rahmi haus asmara, sehingga bermesum di belakang bedeng proyek pun tak masalah. Begitu kepergok, gegerlah warga setempat.

Orangtua sering memberi nasihat, jika cari pasangan istri hendaknya jangan terlalu jauh beda usia. Selisih usia paling ideal 5 tahun. Jika selisih usia sampai 13-15 tahun, itu akan bikin sengsara di kemudian hari. Soalnya sekian tahun kemudian suami hanya mengajak “persahabatan”, karena kurang maju lagi dalam “pertandingan”. Tentu saja hal ini sangat mengecewakan istri yang haus asmara.

Seperti itulah kondisi rumahtangga Rahmi – Mukardi, dari Aceh Tamiang. Selisih usia perkawinan mereka sampai 13 tahun. Sebab ketika menikah 20 tahun lalu, Rahmi baru usia 22 tahun sedangkan Mukardi selaku cowok berusia 35 tahun. Boleh dikata dia terrmasuk lelaki bujang lapuk. Hanya karena status sosial Mukardi yang bagus sajalah, sehingga Rahmi dikawini sang perjaka tua.

Di awal-awal perkawinan memang tak ada masalah. Mukardi masih bisa mengimbangi gejolak dan gairah istrinya. Tapi setelah usia merangkak terus hingga menjadi sebelas pelita, Mukardi kurang bisa lagi memberi “jaminan” pada istri secara memadai. Lebih-lebih sekarang suami kerjanya di Medan, sehingga paling sebulan sekali bisa ketemu. Kaco kan bagi  Rahmi.  Sudah lama ngempetnya, begitu ketemu Mukardi malah walk out, tak mampu melanjutkan pertandingan. Apa suami layak di-Perpu?

Di rumahnya Dusun Damai, Kampung Dalam, Karang Baru, Aceh Tamiang, kebetulan ada pekerjaan proyek pembuatan gedung. Ny. Rahmi yang kesepian ini kemudian kenal dengan salah satu kuli bangunan bernama Rusli. Ternyata hubungan mereka menjadi istimewa, karena keduanya kemudian bak pasangan kekasih yang tengah dilanda asmara.

Mengapa Rusli mau saja pacaran dengan perempuan yang jauh di atas usianya? Karena meski sudah kepala empat, tapi Ny. Rahmi ini masih enerjik dan menawarkan sejuta rasa. Sebagai anak muda yang masih bujangan, Rahmi memberitahukan tentang banyak hal. Bahasa kerennya, dia mampu menjadi instruktur bagi Rusli yang masih begitu awam soal begituan.

Sebagai brondong, Rusli selalu siap melayani kebutuhan Ny. Rahmi. Cuma perempuan beranak 8 ini suka bermain jorok. Maksudnya, bila ada duit mengajak Rusli ke hotel, tetapi jika sedang bokek di belakang bedeng proyek pun jadilah. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, sambil membawa tikar plastik dia mengajak Rusli bermesum ria di belakang bedeng proyek.

Apa yang terjadi, di kala keduanya sedang bergulat antara hidup dan mati, ketahuan penduduk setempat. Begitu disorot baterai, keduanya lari kalang kabut dalam kondisi gidal-gidul dan gobal-gabel.  Rusli masuk ke bedeng dan Rahmi masuk ke rumahnya. Tentu saja skandal ini bikin malu anak-anak Mukadi. Bapaknya di Medan segera ditelepon untuk segera pulang. Klimaksnya, selain menuntut Rusli secara hukum, Mukardi mengusir istrinya dari rumah. “Enyah kau perempuan gatel….,”  kata Mukadi.

Untung Rusli mau nggaruk! (Gunarso Ts)