Wednesday, 26 September 2018

Tak Menggubris Nasihat

Sabtu, 18 Oktober 2014 — 9:03 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

‘DAN bersujudlah,mumpung kita masih diberi waktu’. Itu penggalan syair lagu milik Ebiet G. Ade. Satu nasihat yang pantas untuk direnungkan.

Tapi,masihkah orang pada mendengar nasihat? Kebanyakan orang,nasihat itu didengarkan ketika keluar dari mulut orang tuanya. Bisa sambil makan bareng, atau dalam pertemuan yang memang sengaja dilakukan oleh si orang tua. “ Bekerja harus hati-hati, disipilin, dan jujur!” begitu bisanya nasihat yang keluar dari rang tua. Klise memang.

Semua nasihat yang keluar itu,pada umumnya baik. Orang tua yang preman sekali pun akan memberikan  nasihat baik pada anaknya, “Ketikak besar nanti kamu jangan jadi penjahat!”
Begitu nasihat. Betapa indanya. Keluar dari mulut siapa pun. Kalau nasihat itu baik, maka akan tetap baik. Hanya saja,apakah yang mendengar mau mengiktui atau tidak.

Nah,padahal yang namanya nasihat, ditunjukan oleh Yang Maha Kuasa, tersebar di mana-mana. Bencana yang tiba-tiba menerjang satu kawasan yang dihuni ole satu kaum yang ingkar,misalnya. Nasihat-nasihat yang terjadi pada saat ini, yang ada di depan mata. Lihat saja, penjahat yang tertangkap digebuki sampai babak belur, bahkan bisa sampi koit!

Para pejabat yang hidup mewah, pamer kekuasaan, pamer kekayaan, ternyata hasil merampok harta milik negara, milik rakyat. Mereka korupsi, lalu ketahuan dan ditangkap KPK. Menjadi tontonan banyak orang. Lalu satus dan derajat pun berubah. Bu Gubernur, Pak Gubernur, Pak Hakim Yang Mulya, Pak Presiden partai,  menjadi ‘Pak  atau Bu Narapidana’.

Itu seharusnya menjadi nasihat yang nyata. Kalau mau. Tapi, nyatanya banyak orang acuh. Maka berulangkalilah kejahatan terjadi. Lalu KPK menangkap pejabat yang sedang menerima suap.
Gilanya lagi, ketika ditangkap di depan kamera mereka cengar cengir. Malu kali, ya? Nggak tau dah. Mungkin, juga barangkali, mereka berfikir. Tenang aja, hukum masih bisa dibeli! Ah, masa?!  -massoes