Tuesday, 20 November 2018

Revolusi atau Reformasi Mental

Sabtu, 1 November 2014 — 5:32 WIB

  Oleh S Saiful Rahim

“KE mana saja kau Dul? Minggu lalu tak muncul lagi di warung ini, seperti dua minggu sebelumnya?” tanya Mas Wargo ketika melihat Dul Karung masuk setelah terdengar salamnya yang fasih.

“Ada teman bertamu dan mengobrol panjang lebar. Bahkan sampai sekarang pun masalah yang kami diskusikan belum kutemukan jalan keluarnya Mas,” jawab Dul Karung dengan tangan mencomot singkong goreng seraya pantatnya dilemparkan ke bagian kosong bangku panjang yang ada di sana.

“Memang kau punya teman, Dul?” tanya seseorang entah siapa dan yang mana.“Pasti yang mereka berdiskusi soal membayar utang. Karena solusinya belum mereka temukan, maka sampai kini Si Dul masih tetap berutang kepada Mas Wargo,” sambung orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

Semua hadirin pun tertawa, atau sekadar tersenyum mendengar ucapan itu. Kecuali Dul Karung, dan Mas Wargo yang merasa tidak etis bila turut serta mempergunjingkan pelanggannya.

“Apa sih yang kalian diskusikan itu?” tanya Mas Wargo menengahi sambil mengaduk teh manis untuk Dul Karung.

“Soal revolusi mental. Kami sepakat dengan konsep Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, harus ada revolusi atau reformasi mental. Tetapi bagaimana, dan dari mana, harus memulainya? Rasamya semuanya sudah tidak karuan. Sudah awut-awutan, “ jelas Dul Karung dengan lagak dan suara yang jumawa.

“Ah, omonganmu itu bukan obrolan untuk kelas kita, masyarakat warung kopi kakilima. Itu omongan para politikus,” serobot orang yang duduk tepat di sebelah kanan Dul Karung.

“Politikus? Kau tahu tidak apa itu politikus?” potong orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Poli itu artinya banyak. Contohnya poligami sama dengan banyak istri. Poliandri, banyak suami. Politikus, ya tentu artinya banyak tikus. Buktinya banyak yang disergap oleh KPK,” jawab orang itu seenaknya saja.

“Hus! Jangan ngomong sembarangan. Nanti terkena jerat hukum pencemaran nama baik lho,” lagi kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Kalau boleh aku tahu, apa yang kau diskusikan dengan temanmu itu, Dul?” tanya orang yang duduk di kiri Si Dul, mencoba membawa obrolan ke pangkal persoalannya.

“Kan sudah kukatakan, soal revolusi mental,” jelas Dul Karung dengan nada agak tinggi.

“Iya…. Tapi apanya? Teorinya? Cirinya? Cara untuk melaksanakannya? Atau apa?” desak orang itu dengan kata-kata yang disabar-sabarkan.

“Kukira cara melaksanakan revolusi mental atau reformasi mental itu. Sebab dia mengajak aku membuat satu lembaga, atau melakukan suatu kegiatan, suatu aksi revolusi atau reformasi mental. Nah, itu kan ajakan yang rumit.

Dia berpendapat revolusi atau reformasi mental harus dimulai dari atas. Artinya dari kalangan pemimpin. Bukan dari rakyat,” kata Dul Karung panjang lebar.

“Aku setuju dengan gagasan temanmu itu,” ujar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang semula hanya asyik mengisap rokok.

“Banyak orang yang disebut, atau ingin disebut, pemimpin yang tak bisa menunjukkan sikap kepemimpinan. Dalam masa kampanye Pemilihan Presiden dan Wakilnya yang lalu, kekuatan politik terbagi dua. Kedua belah pihak kampanye penuh sindiran, bahkan caci maki. Rakyat yang  sebagian besar belum sadar, bahkan belum mengerti politik, di kedua belah pihak bukan saja saling caci, bahkan ada yang sampai kerkelahi. Karena secara membabi buta mereka meniru sang pemimpin yang sudah saling melotot, memberi komando tersamar, dan menyebut-nyebut istilah “Perang Badar” segala.

Ketika Pilpres selesai, pemimpin dari kedua belah pihak pun sama-sama ingin menunjukkan jiwa besar. Beliau saling kunjung, saling berangkulan, dan  hahaheheh. Tapi rakyat yang lugu, ada yang kebablasan terbakar melihat amarah pemimpin ketika berkampanye, akhirnya terjerat hukum.

Misalnya ada yang terjebak perkara pencemaran nama baik melalui media sosial sehingga terancam hukuman yang berat. Seandainya tidak ada pemimpin yang membakar semangat dalam kampanye yang mengandung caci maki dan celaan, barangkali tak ada yang kebablasan,” sambung orang itu dengan berapi-api. Sama panasnya dengan kampanye yang dicelanya.

“Betul itu Bung. Mereka yang kemudian duduk di DPR, yang sudah seharusnya berkadar pemimpin, atau ingin dianggap pemimpin pun, demikian juga. Rebutan kursi dengan segala cara, dan akhirnya menjungkirbalikkan meja. Apakah orang yang menjungkirbalikkan meja, atau orang yang menyebabkan orang lain menjungkirbalikkan meja, layak disebut pemimpin yang jadi panutan? Kata pepatah, “Bila guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Kalau guru sudah kencing berlari, murid pasti akan mengencingi guru,” tanggap orang yang duduk di depan Mas Wargo dengan penuh emosi.

“Halo Saudara-saudara. Apa kita sudah bisa memulai revolusi atau reformasi mental?” sela Dul Karung seraya meninggalkan warung. ( syahsr@gmail.com )