Thursday, 20 September 2018

Menyabung Nyawa, Mencari Sisa

Jumat, 14 November 2014 — 2:52 WIB
Dhika-14Nove

BANYAK pilihan jalan hidup. Mau jadi pejabat, pengusaha, pedagang, pegawai, politikus atau kuli? Silakan. Boleh mau jadi apa saja. Tapi, bukankan semua penuh dengan usaha dan perjuangan?

Sebagian atau, barangkali, semua orang kepingin pekerjaan enak, dengan penghasilan enak pula. Ya, seperti orang-orang yang duduk di atas sana, dengan gaji yang tinggi?  Tapi, ya tadi kan tidak semua keinginan bisa terpenuhi. Ya, dengan berbagai sebab dan peruntungan garis tangan.

Ada orang yang kelakuannya nol, tiba-tiba bisa jadi anggota legislatif, atau pejabat. Tapi, sudahlah, memang sudah nasibnya harus bagus ya bagus, begitu.

Nah, tapi boleh dong kalau menyimak betapa ada orang berusaha mencari sesuap nasi dengan bertaruh nyawa? Banyak yang begitu. Coba lihat para nelayan yang berhari-hari di tengah lautan, melawan ombak dan badai, lihat para kuli galian pasir yang berada jauh di kedalam tanah, dan sungai. Lihat juga para penggali tambang yang juga  berada di lubang-lubang besar dan dalam. Tak sedikit musibah yang menimpa dan merenggut nyawa mereka.

Siapa yang bertanggung jawab? Hemm, kalau sudah begitu nggak ada yang mengaku. Ngapain juga bertanggung jawab? Kan kata para pejabat yang berwenang, mereka itu para  penambang emas liar atau ‘gurandil’?  Ya, namanya juga liar, nggak ada izin dan mereka bekerja seenaknya sendiri tanpa alat dan pengaman yang memadai?

O, begitu? Lalu apa sanksi para pengusaha tambang yang berizin ketika meninggalkan bekas galian? Nah, lokasi bekas tambang itulah yang kemudian dimasuki oleh para penambang yang hanya sekadar mencari sisa-sia. Itu pun kalau masih tersisa, demi sesuap nasi?

Belum lagi, bekas galian itu merusak lingkungan. Longsor, banjir bandang dll. Kalau begitu siapa yang beranggung jawab? Hemmm, nggak bakalan ada yang ngaku. Payah, deh!    –  massoes