Sunday, 25 August 2019

Ketika si Kecil Bicara ‘Cinta’

Senin, 24 November 2014 — 7:14 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

SEORANG ibu muda mebuka HP anak putrinya yang baru kelas 4 SD. Dan membaca SMS yang ada di situ, mencengangkan.
“Halo apa kabar Sayang? Kamu hari ini sangat cantik deh, lebih cantik dari hari kemarin. I miss you, I love you….dst.”

Berulang-ulang sang ibu muda itu membaca SMS yang ada di di ayar HP. Tak percaya kalau itu diketik dan keluar dari pikiran bocah yang kadang masih ngompol itu?

Tapi, begitulah adanya. Dan dengan hati-hat sang ibu pun bertanya. Apa yang dimaksud dengan kata-kata tersebut. Maka dengan lancar, tanpa sungkan sang gadis kecil itu pun menjawab,” Ah, Bunda. Itu kan kata-kata sayang  en cinta dari kawan cowokku sekelas, kata-kata seperti yang di TV itu, lho? ”

O, gitu ya? Sang ibu masih belum percaya kalau buah hatinya sudah ‘lancar’ bicara cinta, dari pada cerita legenda rakyat yang pernah dia serap ketika seumur anaknya.

Dulu itu, waktu jaman kuda ‘gigit besi’. Anak anak seusia SD masih rajin membaca cerita-cerita rakyat atau dongeng.

Tapi sekarang? Ah, bacaan komik juga kebanyakan dari luar negeri. Pun isinya soal cerita dewasa. Jauh dari petualangan seperti ‘ 4 sekawan atau 5 sekawan’ yang bercerita soal cinta alam, dan tanah air?

Jarang ya, cerita begitu? Hemm, lalu pada ke mana para pengarang kita ya?

Sebetulanya banyak, pengarang berbakat. Tapi, sayang para pemodal  sungkan membantu, malah mencetak ulang karya atau komik luar?

Lebih dari itu acara anak-anak di TV juga kurang. Jadi nggak salah kalau anak kita nonton tontonan dewasa, yang isinya, soal kegalauan, patah hati karena cinta?

Padahal, anak-anak kita seusai TK,SD seharusnya masih bicara cinta tentang ibu, ayah,kakak dan alam. Seperti nyanyian;  ‘Satu satu, aku sayang Ibu’  atau ‘Naik-naik ke puncak gunung?’  Hemm, gunungnya juga pada gundul, ya? “Ah, I miss you gunung….?!    – massoes