Saturday, 22 September 2018

Perajin Tahu Tempe Perkecil Ukuran

Kamis, 27 November 2014 — 18:22 WIB
Pengrajin tempe di Semanan tengah memotong tempe hasil produksinya

Pengrajin tempe di Semanan tengah memotong tempe hasil produksinya

KALIDERES (Pos Kota) – Kenaikan harga BBM dan harga kedelai  membuat  pengrajin tahu dan tempe di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat (Jakbar) harus putar otak agar usahanya tetap berjalan.

Mereka terpaksa memperkecil ukuran tahu dan tempe hasil produksinya, guna mensiasati besarnya pengeluaran biaya produksi.

Dwiyanto, 37, mengaku mengurangi ukuran  dilakukan guna menekan biaya produksi terkait kenaikan harga BBM dan tidak stabilnya harga kedelai di pasaran.

“Terpaksa cara itu dilakukan, kalau  gak, produksi tidak jalan. Karena biayanya sudah tinggi, apalagi harga kedelai tidak stabil,  hari ini  Rp 7000/ Kg, besoknya udah naik  Rp 9000/Kg,” ucapnya, Kamis(27/11).

Mengurangi ukuran tahu tempe dirasakan upaya yang tepat, karena kalau menaikkan harganya kasihan masyarakat dan tentunya mereka juga akan komplain. Kalau tidak dikurangi biaya produksi akan membengkak. “Kalau harga dinaikkan pelanggan komplain. Jadi harga tetap satu lonjor ukuran kecil Rp 5000 dan ukuran besar Rp 10.000,” jelas Dwiyanto.

Dirinya pernah mencoa memproduksi tempe dengan kedelai harga termurah, namun dikomplain para pelanggannya. Karena kualitas produksinya  tidak bagus.

Supriyadi, 40, pengrajin tahu menambahkan dirinya juga memperkecil ukuran tahu produksinya. Langkah ini merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi mahalnya biaya produksi. “Habis mau gimana lagi, hanya ini satu-satunya jalan agar usahanya tetap berjalan,” ucapnya.

Supriyadi dan Dwiyanto berharap pemerintah dapat mencarikan solusinya, agar usaha pengrajin tahu tempe terus berlangsung. “Kami berharap pemerintah mencarikan jalan keluarnya, terutama stabilnya harga kedelai,” kata Supriyadi. (Tarta)