Tuesday, 23 October 2018

Dapat Tunjangan Sertifikasi, Kok, Malah ‘Nunjang Palang’

Selasa, 9 Desember 2014 — 1:03 WIB
Ucha-D-9Des

GURU sekarang mah enak, 3 bulan sekali dapat tunjangan sertifikasi Rp 10 juta. Tapi seperti Ny. Kholilah, 46, dari Bojonegoro justru sedih. Sebab setelah Broto, 52, suaminya dapat rejeki tambahan, eh…..malah punya WIL segala. Dia baru tahu ketika WIL suami dalam kondisi hamil dan minta dinikahi.

Guru itu tugasnya berat, mendidik generasi muda pewaris bangsa. Tapi imbalan dari negara kecil. Bandingkan dengan artis di TV, mereka yang punya andil rusaknya generasi muda, justru berpenghasilan gede. Maka demi rasa keadilan, kaum guru mulai diperbaiki nasibnya. Sejak tahun 2006 mereka dapat tunjangan serfikasi. Cuma syaratnya, harus mengajar sedikitnya 20 tahun dan sudah bergelar sarjana S-1.

Berkat kebijakan pemerintah tersebut, nasib guru mulai membaik. Termasuk Pak Guru Broto yang tinggal di Desa Pomahan, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro. Sebagai guru SD tiap 3 bulan sekali dia ngrapel tunjangan sertifikasi sebanyak Rp 10 juta. Bila dipukul rata, sebulannya dia kini bisa membawa pulang uang Rp 8 juta.

Sayangnya, tak semua uang itu sampai di rumah. Karenanya sang istri, sama sekali tidak tahu suami punya tambahan penghasilan sebanyak itu. Yang dia tahu, belakangan suami tambah necis dan bau wangi. Sering pulang telat, bahkan tidak pulang juga sering. Katanya ada penataran untuk para guru, khususnya menghadapi Kurikulum 2013.

Benarkah demikian? Sama sekali tidak. Sebab seperti kebanyakan kaum lelaki, ketika ada rejeki berlebih pikirannya mulai macem-macem. Investasi bukan ke tanah atau sawah, melainkan ke “sawah” sepetak yang tak seberapa luas. Jelasnya, sejak dapat sertifikasi Pak Guru Broto malah mengincar janda Ratih,  35, teman gurunya mengajar.

Awalnya Broto ya biasa saja menghadapi Ratih ini. Tapi lama-lama kok menggemaskan juga, sepertinya kok enak dikeloni dan perlu, begitu. Lebih-lebih setelah punya tunjangan sertifikasi, rasa pedenya mendekati janda semakin tinggi. Sejak itu Pak Guru Broto mulai mbagusi, mengajak Ratih berkoalisi bak suami istri.

Sejak 3 tahun lalu boleh dikata Broto – Ratih menjalani kehidupan kumpul kebo. Menikah tidak, tapi “sundang-sundangan” jalan terus. Katanya justru yang model separo-separo nyolong itu lebih mengasyikkan. Sekedar contoh, jeruk beli di pasar kurang sedap dibanding dengan jeruk nyolong di pekarangan orang saat masih anak-anak dulu.

Begitulah, Broto – Ratih terus begituan bak suami istri. Di kelas mengajar bareng, di rumah Ratih justru sering “diajar”. Anehnya Ratih tak pernah merasa kesakitan, justru merem melek keenakan.

Akibat seringnya bermesum ria, lama-lama janda Kholilah hamil juga. Seperti lazimnya korban “kecelakaan” ranjang, Bu Guru ini minta dinikahi resmi, sehingga status hukum anaknya jelas. Cuma sialnya, karena Pak Broto terkesan mau menghindar, sehingga akhirnya Ratih mengejar-ngejar hingga ke rumah. Nah, di sinilah semuanya jadi terbongkar.

Kholililah begitu tahu suami punya WIL yang sedang hamil, tentu saja naik pitam. Baru dapat tunjangan sertifikasi, sudah “nunjang palang” main perempuan segala. Dia laporkan suaminya ke polisi agar dituntut secara hukum.

Nggak nyesel suami dipecat, Bu? (Gunarso TS)