Wednesday, 19 September 2018

Potensi Kelapa Sawit Masih Bisa Ditingkatkan

Rabu, 10 Desember 2014 — 9:01 WIB
Foto-Perkebunan kelapa sawit.(dok/reuters)

Foto-Perkebunan kelapa sawit.(dok/reuters)

BOGOR (Pos Kota) – Komoditas perkebunan rakyat Indonesia yang sangat penting adalah karet, kelapa sawit, kelapa, dan kakao. Dari semuanya, perkebunan kelapa sawit adalah yang masih dibayangi berbagai macam isu.

Belum lagi dengan banyak tumpang tindih tata ruang, banyaknya kebun sawit di kawasan hutan, banyak kebun sawit di lahan gambut, persoalan agaria (kepemilikan lahan), penguasaan modal asing, proporsi perkebunan estate dan rakyat, dan lain-lain.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar Seminar Nasional Kelapa Sawit, Pengembangan Produksi Kelapa Sawit Rakyat melalui Pembinaan Petani Swadaya, di Hotel Papyrus Bogor.
Dekan Fakultas Pertanian, Prof.Dr.Ir. Ernan Rustiadi mengatakan, politik Indonesia saat ini memberikan pehatian yang besar untuk dikembangkannya perkebunan sawit rakyat. Banyak pihak yang ingin mengurangi porsi penguasaan sawit oleh pihak asing atau korporasi besar.

“Bicara sawit, sulit bagi kita menutup mata terhadap persoalan politik perdagangan global yang menyertainya. Banyak negara yang terancam dan tersaingi dengan semakin kompetitifnya minyak sawit kita. Produksi kita mencapai 3,5 juta ton per hektar per tahun. Tidak ada minyak nabati lainnya yang bisa menandingi. Oleh karena itu banyak upaya untuk membatasi masuknya ekspor produk sawit kita,”ujarnya.

“Sistem pertanian kelapa sawit adalah yang terluas dalam mengokupasi lahan pertanian kita,” tambahnya.
Sawit kita telah mencapai 10 juta hektar, jauh melampaui luas sawah kita yang luasnya terus menurun yakni di bawah 8 juta hektar dari hasil proses keseimbangan yang panjang.

“Persoalan lainnya adalah teknologi. Potensi sawit masih besar. Saat ini produksi sawit masih di bawah yang sebenarnya bisa dihasilkan. Selain itu, biomassa yang belum termanfaatkan dari limbah sawit masih luar biasa. Ini suatu sumber pertumbuhan baru yang kami bayangkan akan sangat besar. Oleh karenanya perlu ada perhatian khusus tentang pentingnya pemberdayaan petani sawit swadaya,”ujar Ernan.

Sementara itu, menurut Joko Supriono Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), perusahaan membeli Tandan Buah Segar (TBS) itu di pabrik, ongkos transportasi 200 rupiah per kilo, petani cuma menikmati harga separo karena habis untuk transportasi belum lagi bicara tengkulak yang mencapai tiga tingkat.

“Ada yang namanya tukang galas (tengkulak level satu) pengumpul level 2 dan level 3 yang bawa tronton 30 ton dengan jarak tempuh 100-200 kilometer. Anda bisa bayangkan margin petani habis di situ. Padahal 43% dari total luas kelapa sawit adalah milik petani swadaya. Jika hasil dari petani tidak dibeli oleh perusahaan apa yang akan terjadi? Bahkan salah satu petani ada yang pernah mengatakan kalau perusahaan tidak mau beli maka pabrik akan dibakar,”kata Ernan.

Salah satu kelemahan petani adalah tidak ada bank yang membiayai kebun swadaya, revitalisasi perkebunan itu tidak jalan. Menurutnya, kalau perusahaan mau membantu, maka itu konteksnya adalah CSR, itu pun selama tidak ada kepastian dalam pemasaran maka tidak akan sukses.

(yopi/sir)