Tuesday, 13 November 2018

Ludruk dan Ludrukan

Kamis, 11 Desember 2014 — 1:30 WIB

Oleh Harmoko

ANDA pernah menonton ludruk? Lihat, permainan mereka sarat dengan improvisasi panggung. Tak saja celetukan-celetukan dialognya, tapi juga adegan-adegannya. Bagaimana kalau permainan ala ludruk ini diperankan di panggung politik oleh para penyelenggara negara? Maka, itulah hiburan segar bagi rakyat.

Pejabat publik harus piawai melakukan improvisasi, di tengah kiprahnya dalam melayani masyarakat yang dibatasi oleh sejumlah peraturan. Tetapi, improvisasi yang seperti apa? Ini masalahnya.

Dalam pentas ludruk, meski para pemainnya harus pandai berimprovisasi, mereka selalu mengasah kemampuan lewat latihan. Mereka harus berlatih vokal dan artikulasi bertutur, juga memperkaya idiom-idiom, misalnya, termasuk mengelola dialog agar ketika pentas di panggung tidak bertabrakan dengan pemain lain.

Kekuatan lain yang dimiliki oleh pemain ludruk adalah kemampuan mereka berparikan alias berpantun, selain dialog-dialog yang sarat humor segar. Pada obrolan yang semula tampak serius, mendadak bisa mengundang tawa ketika padanya diselipkan celetukan-celetukan ringan namun menggigit. Orang Jawa menyebutnya ‘guyon parikena’. Guyon model ini bermuatan sindiran atau kritikan. Kritik atau sindiran disampaikan sambil berncanda, namun mengena.

Tidak mudah, tentu saja, bagi siapa pun yang hendak bermain ludruk. Itu untuk ludruk panggung. Apalagi ludrukan politik.

Sebut, misalnya, ketika seorang presiden mengatakan akan menenggelamkan kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia, para pejabat terkait harus segera tanggap. Pro dan kontra muncul. Maka, improvisasi pun dilakukan: tidak dapat kapalnya, perahu pun ditenggelamkan, dengan membuat pernyataan, “Kami telah menenggelamkan kapal asing.”

Rakyat pun dibuatnya tertawa oleh improvisasi model ludruk itu. Nah, begitu ada kapal besar asing tertangkap sedang mencuri ikan di perairan Indonesia, sang pejabat mengatakan bahwa kapal itu tidak perlu ditenggelamkan karena nantinya bisa dimanfaatkan oleh nelayan kita. Katanya, hal ini akan dinegosiasikan dengan negara asal kapal itu.

Apa lagi? Banyak. Intinya, gaya ludrukan sepertinya sedang ngetren. Terhiburkah rakyat? Belum tentu. (*)