Tuesday, 18 September 2018

PT Pelindo Diminta Perbanyak Alat Bongkar Muat di Pelabuhan

Senin, 22 Desember 2014 — 11:07 WIB
Foto-Pelabuhan Tanjung Priok.(dok)

Foto-Pelabuhan Tanjung Priok.(dok)

JAKARTA (Pos Kota) – BUMN PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) l-lV agar memperbanyak investasi alat bongkar muat di pelabuhan serta mengganti peralatan yang sudah rusak.

“Investasi peralatan bongkar muat peti kemas di pelabuhan bisa saja menggandeng swasta atau perusahaan pelayaran yang  memiliki kinerja baik,” ujar Teddy Arief Setiawan, Direktur Pelayaran Tempuran Mas Tbk, kemarin.

Menurutnya di Pelabuhan Belawan Medan Sumatera Utara akibat peralatan dan infrastuktur lainnya serta belum menggunakan Window sistem pelayanan bongkar muat petikemas domestik di tempat tersebut bisa mencapai tiga hari.

“Sejak kapal sandar hingga kapal keluar di Pelabuhan Belawan Medan, layanan kapal peti kemas domestik bisa mencapai tiga hari. Apalagi di pelabuhan ini dari lima unit alat bongkar muat yang tersedia hanya beroperasi tiga unit karena dua unit lainnya dalam kondisi rusak,” terang Teddy.

Dari seluruh pelabuhan katanya,  kinerja tertinggi produktivitas bongkar muat peti kemas domestik  yang dikelola Pelindo baru terdapat di Pelabuhan Tanjung Priok dengan rata-rata kecepatan bongkar muat sebanyak 90 bok/jam/3 crane.

Kemudian di Pelabuhan Makassar dengan 75 bok/jam/3 crane, Pontianak 50 bok/jam/2 crane, sedangkan di Pelabuhan Belawan Medan hanya 25 bok/jam/2 crane. Disinggung mengenai tol laut, dia mengatakan pelayaran nasional angkutan peti kemas domestik sudah menjalankannya seperti pola pelayaran berkonsep mulai dari Medan-Jakarta-Surabaya-Makassar dan Bitung.

Namun, kata Teddy, tarif angkut atau freight muatan baliknya untuk sejumlah rute tidak seimbang atau kosong muatan atau rendhnya load factor padahal tarif atau freightnya relatif murah. Misalnya, untuk Jakarta-Bitung berlaku freight Rp6 juta/bok, namun freight baliknya (Bitung-Jakarta) hanya Rp2 juta/bok.

Fright lainnya  Jakarta- Medan Rp5 juta sebaliknya Medan-Jakarta hanya Rp1,5 juta/bok, Medan-Surabaya Rp2 juta/bok, , Jakarta-Surabaya Rp1 juta/bok, dan Jakarta-Makassar Rp5 juta/bok. Namun demikian, pergerakan tarif angkut pelayaran peti kemas domestik hingga akhir tahun ini tergolong stabil dan perusahaan pelayaran masih menerima margin dari setiap rute domestik tersebut.

“Sampai saat ini, untuk tingkat isian muatan tertinggi setiap kapal terdapat pada rute Surabaya-Makassar yang mencapai load factor 100 persen,” kata Teddy. (dwi/yo)