Friday, 20 July 2018

Inggrid Rhemanty, Produser Muda yang Angkat Kisah Warga Susah di Ibukota

Minggu, 28 Desember 2014 — 19:15 WIB
Inggrid Remanthy-700

MELANGKAH ke dunia seni peran, sebagai pemain, Inggrid Rhemanty kini melompat peran baru sebagai produsser. Dia terobsesi memproduksi film-film yang bisa menginspirasi banyak orang

Dengan bendera Atlantis Picture. Sebagai langkah awal mereka membuat film yang berjudul Malaikat Kecil. Film ini menceritakan seorang ayah yang berjanji kepada dua buah hatinya untuk membuat mereka bahagia.

“Awalnya aku ingin berkarya aja, untuk memberikan sesuatu yang terbaik buat negara ini lewat karya film. Aku tadinya pemain sinetron, film juga. Tapi sering banget  ditipu orang, makanya pas ada kesempatan seperti ini aku ambil aja,” kata Rhe, saat ditemui di Jakarta, Jumat (26/12)

Mengangkat kisah dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta, Rhe – begitulah ia biasa disapa – merasa punya tanggung jawab untuk menyuarakan suara minoritas di pinggiran Jakarta.

“Aku dari dulu emang suka mendatangi seperti korban banjir atau sekedar berbagi sama anak-anak yatim di rumah. Nah pas ada cerita film seperti ini, aku langsung tertarik untuk jadi produser, “ paparnya.

Dwi-Tika-Malaikat Kecil

Aktor Dwi Sasono dan aktris Tika Bravani, pendukung film Malaikat Kecil

Keluarga, saudara-saudara pastinya mendukung langkahnya. “Kebetulan aku dapat teman-teman yang berkecimpung di dunia film yang betul-betul mengerti. Aku banyak belajar dr mereka, mereka mengajarkan aku bagaimana caranya jadi produser yang benar,” tambahnya.

Perempuan kelahiran 1992 ini mengaku awalnya memang pengen jadi pemain saja. Tapi karena ada kesempatan, dan ada modal juga jadi dia beranikan diri aja bikin film ini.

“Aku masih pengin bikin film lagi, walaupun nantinya film ini tidak untung. Kalau film ini meledak aku akan bikin film lagi, tapi kalaupun nggak meledak aku tetap akan bikin film. Karena emang masih pengin berkarya. Karena bisnis ‘kan nggak pernah ada yang tahu untung apa rugi sebelum mencobanya sendiri,” bebernya.

Film ini kan ceritanya tentang seorang yg autis tapi punya istri dan dua orang anak. Bagaimana si tokoh Budi ini mencoba bertahan di Jakarta yg sangat keras, paparnya.

Ditengah himpitan ekonomi yang serba kekurangan, tokoh utama Budi (diperankan aktor Dwi Sasono)  menjadi contoh kaum urbah yang datang ke Jakarta untuk mencari peruntungan nasib dan kehidupan yang lebih baik.

“Betapa banyak orang di Jakarta yg hidupnya masih di bawah garis kemiskinan dan jauh dari kata cukup. Mudah-mudahan film ini menginspirasi banyak org agar tetap semangat, meskipun dengan kondisi yg tidak sempurna, “ katanya. – dms