Friday, 22 September 2017

Nasibmu Kini Pasar Klewer, “Penyembah” Kraton Solo

Rabu, 31 Desember 2014 — 9:17 WIB
Ucha-31Des

SUDAH lama Pasar Klewer di Solo itu hendak diremajakan, bahkan desain wajah barunya juga sudah disiapkan. Pasar di barat Kraton Kasunanan Surakarta itu dibangun hanya 4 lantai, karena dilarang melebihi ketinggian Panggung Sanggabuwana di pusat Kraton. Ketika pedagang menolak peremajaan tersebut, tiba-tiba malam Minggu lalu pasar “penyembah” Kraton itu terbakar habis tinggal abu. Isyu pun merebak, kebakaran biasa atau sengaja dibakar?

“Malem Minggu kutha Sala pancen rame, pating sliwer mobil branwir rebut banter, Pasar Klewer bengi kuwi geter pater……”begitulah andaikan lagu “Bebaya ing marga” yang dinyanyikan Waljinah diplesetkan. Memang, malam Minggu 27 Desember lalu pasar tekstil terbesar di Solo itu terbakar habis dimakan si jago merah. Sekitar 2.300 kios ludes menjadi abu, dengan kerugian Rp 5 triliun. Banyak pedagang yang klenger (pingsan) bahkan ada yang mati mendadak.

Sudah menjadi tradisi, setiap pasar besar terbakar isyupun menjalar. Di banyak kejadian, mana kala pedagang menolak peremajaan, tak lama kemudian pasar tersebut terbakar dan peremajaan berjalan tanpa kendala. Maka tak mengherankan, ketika Pasar Klewer dilalap si jago merah, isyu merebak bahwa ini memang sebuah rekayasa. Tapi mana yang benar, sebagaimana kata Wong Solo, hanya: Gusti Allah sing priksa.

Sejak era Walikota Slamet Suryanto, rencana peremajaan Pasar Klewer sudah ada, tapi pedagang menolak. Sebab berdasarkan pengalaman, dengan kios-kios baru justru pedagang lama tersingkir oleh pedagang modal besar. Maka pihak Pemkot tak bisa apa-apa. Padahal desain baru Pasar Klewer itu sudah disiapkan. Bangunannya hanya 4 lantai, karena tak boleh melebihi ketinggian Panggung Sanggabuwana yang 35 meter. Dikonstruksi menghadap ke timur, seolah-olah sengaja Pasar Klewer itu harus “menyembah” Kraton Kasunanan.

Pasar Klewer dibangun dan diresmikan era Presiden Soeharto di tahun 1971. Pemborongnya Sukamdani Gitosardjono, priyayi Carikan, Sukoharjo. Proyek inilah yang menjadi titik tolak kesuksesan kerajaan bisnis Sahid Grup. – gunarso ts