Friday, 18 August 2017

Dana Bencana Alam Rp10 Miliar di Sukabumi

Jumat, 16 Januari 2015 — 10:10 WIB

SUKABUMI (Pos Kota) – Dana penanggulangan bencana alam di Kabupaten Sukabumi mencapai Rp10 miliar, tahun ini. Alokasi anggaran yang dinilai cukup besar ini karena wilayah kabupaten terluas se-Jawa dan Bali ini merupakan wilayah rentan bencana. Terlebih, cuaca ekstrem belakangan terakhir yang boleh jadi berpotensi bencana.
Bupati Sukabumi, Sukmawijaya, mengatakan pemkab tahun ini meng anggarkan dana untuk bencana alam sekitar Rp10 miliar. Besaran dana bencana tahun ini sama dengan tahun sebelumnya.

Disebutkan Sukma, melihat kondisi cuaca yang ekstrem seperti intensitas hujan cukup tinggi, misalnya, tak menutup kemungkinan kewaspadaan bencana ditingkatkan.

“Wilayah bencana yang mendapatkan perhatian saat ini salah satunya di Kecamatan Pabuaran. Di tiga desa terjadi pergerakan tanah sehingga membentuk semacam cekungan. Kami khawatir cekungan itu nantinya bisa menjadi penampung air dan bisa sewaktu-waktu bisa tumpah atau membuat tanah jadi labil sehingga jadi longsor yang di bawahnya ada permukiman penduduk,” terangnya.
Menurut Sukma, kewaspadaan dan penanganan jangka pendek sudah diwaspadai Pemkab Sukabumi.Mengimbau warga agar selalu waspada. Sedangkan penanganan jangka panjang, misalnya relokasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi Irwan Fajar, bencana pergerakan tanah di Kecamatan Pabuaran meluas. Setelah terjadi di Kampung Cadas Desa Cibadak dan di Kampung Nagrak serta Kampung Citalaga Desa Ciwalat, pergerakan tanah melanda Kampung Pasirbitung Desa Sukajaya. Sedikitnya terdapat 43 kepala keluarga (KK) yang terancam longsor.

“Ada sebanyak 94 jiwa yang terancam pergerakan tanah di wilayah tersebut. Kami sudah menyarankan warga untuk mengungsi sementara ke tempat lebih aman,” ujarnya.

Lebih lanjut Irwan menuturkan, kontur tanah di tiga titik di Kecamatan Pabuaran itu sudah diteliti Badan Geologi. Rekomendasinya pun sudah diterima BPBD Kabupaten Sukabumi. “Apabila melihat kondisi tanah di permukiman tersebut, tampaknya cukup berbahaya jika ditinggali sebagai permukiman penduduk,” tandasnya.
(sule/sir)